Kamis, Desember 17, 2009
Hadiah Pertama untuk Istriku
Aku ingat2 ternyata selama hampir 7 tahun pernikahanku ini aku belum pernah membelikan sesuatu yang berharga buat istriku. Tentu kecuali mas kawin waktu menikah dulu itu.
Selasa, Agustus 18, 2009
Benderaku Sedang Tidak Berkibar
64 tahun sudah Indonesia berdiri. Entah berapa kali upacara 17-an saya ikuti, kok tiba-tiba saya memperhatikan detil proses upacara di Bappenas kemarin. Di tengah-tengah iringan lagu Indonesia Raya yang tidak oke dari paduan suara CPNS dan beberapa peserta yang ikut menyanyi, menjadikan suasana upacara jauh dari kesan khusyuk.
Puncaknya, bendera sudah sampai di puncak. Berkibarkah dia? Tidak. Mungkin karena tidak ada hembusan angin, karena pohon2 besar di depan kantor udah digundulin. Yah, memang sang Merah-Putih sedang tidak mau berkibar di kantor yang seharusnya menjadi playmaker pembangunan di Indonesia.
Merah-Putih yang 'ngelimprek' adalah kebalikan dari potret Bappenas itu sendiri. Bappenas justru suka terbang tinggi, setelah tidak mempunyai budget power sejak tahun 2004, Bappenas semakin mengembara jauh ke awang-awang. Apa yang direncanakan, yah itu hanya sebuah rencana. Nggak penting dan nggak ada hubungannya dengan implementasi. Itulah Bappenas, terbang tinggi tanpa arah.....
Kementerian/departemen jalan sendiri-sendiri. Sebenarnya, kalau mau mengibaratkan tim sepak bola, presiden adalah manajer, bappenas playmaker, depkeu kiper, dan kementerian/departemen adalah tim yang mendukung. Selama satu dasawarsa reformasi, yang terjadi, playmaker (Bappenas) tidak pernah pegang bola, justru kiper (Depkeu) yang aktif memainkan bola. Walhasil bola hanya berkutat di wilayah pertahanan sendiri tanpa pernah merangsek untuk mengegolkan kemenangan.
Di tengah2 jargon bahwa Indonesia adalah negara ke-3 di dunia yang mempunyai pertumbuhan tertinggi, lihatlah bagaimana biaya sekolah melambung tinggi (tidak hanya SD, SMP, SMA, atau Perguruan Tinggi, TK malah minta ampun mahalnya), bagaimana sekolah2 kita yang mau roboh (yang diiklanin lewat sekolah gratis), bagaimana kota2 besar kita makin dipenuhi gelandangan, bagaimana hutan2 kita terus terbakar, bagaimana sungai2 kita meluap dan membanjiri kota di kala hujan dan mengering di kala kemarau, bagaimana minyak, gas, dan batubara belum membuat ketahanan energi bagi kita, bagaimana pesawat2 latihan tempur kita jatuh satu-persatu, bagaimana keadaan jalan2 kita yg bergelombang, dan lain2, dan lain2.
64 tahun sudah bangsa ini ada, tapi keberadaannya tidak terasa. Bahkan di jantung negara itu sendiri. Gimana kalau ini terjadi di Sintang, Nunukan (perbatasan dengan Malaysia), Pulau Miangas (dng Filipina), Morotai (dng Timor Leste), Pulau Rote (dng Australia), Papua (dng Papua Nugini), dll.
Memang, mustinya sebagai PNS saya tidak harus berpikir "Apa yang bisa diberikan negara kepadaku" tapi "Berapa...?" eits, maksudnya apa yang bisa kita berikan buat negara kita tercinta.....
Saya mau memberikan sesuatu buat negara ini, tapi toh terkunci. Alangkah bagusnya kalau Bappenas, kantor saya tercinta, kembali memainkan fungsi playmaker yang optimal. Kalau tidak, biarkan manajer menarik ke luar lapangan dan menjadikan sebagai think-tank atau asisten manajer. Tunjuk playmaker lain di lapangan....
Indonesiaku, kamu adalah negara yang tidak tahu mau kemana. Lihatlah sang Merah-Putih, kayaknya dia merasa malu untuk berkibar....
Puncaknya, bendera sudah sampai di puncak. Berkibarkah dia? Tidak. Mungkin karena tidak ada hembusan angin, karena pohon2 besar di depan kantor udah digundulin. Yah, memang sang Merah-Putih sedang tidak mau berkibar di kantor yang seharusnya menjadi playmaker pembangunan di Indonesia.
Merah-Putih yang 'ngelimprek' adalah kebalikan dari potret Bappenas itu sendiri. Bappenas justru suka terbang tinggi, setelah tidak mempunyai budget power sejak tahun 2004, Bappenas semakin mengembara jauh ke awang-awang. Apa yang direncanakan, yah itu hanya sebuah rencana. Nggak penting dan nggak ada hubungannya dengan implementasi. Itulah Bappenas, terbang tinggi tanpa arah.....
Kementerian/departemen jalan sendiri-sendiri. Sebenarnya, kalau mau mengibaratkan tim sepak bola, presiden adalah manajer, bappenas playmaker, depkeu kiper, dan kementerian/departemen adalah tim yang mendukung. Selama satu dasawarsa reformasi, yang terjadi, playmaker (Bappenas) tidak pernah pegang bola, justru kiper (Depkeu) yang aktif memainkan bola. Walhasil bola hanya berkutat di wilayah pertahanan sendiri tanpa pernah merangsek untuk mengegolkan kemenangan.
Di tengah2 jargon bahwa Indonesia adalah negara ke-3 di dunia yang mempunyai pertumbuhan tertinggi, lihatlah bagaimana biaya sekolah melambung tinggi (tidak hanya SD, SMP, SMA, atau Perguruan Tinggi, TK malah minta ampun mahalnya), bagaimana sekolah2 kita yang mau roboh (yang diiklanin lewat sekolah gratis), bagaimana kota2 besar kita makin dipenuhi gelandangan, bagaimana hutan2 kita terus terbakar, bagaimana sungai2 kita meluap dan membanjiri kota di kala hujan dan mengering di kala kemarau, bagaimana minyak, gas, dan batubara belum membuat ketahanan energi bagi kita, bagaimana pesawat2 latihan tempur kita jatuh satu-persatu, bagaimana keadaan jalan2 kita yg bergelombang, dan lain2, dan lain2.
64 tahun sudah bangsa ini ada, tapi keberadaannya tidak terasa. Bahkan di jantung negara itu sendiri. Gimana kalau ini terjadi di Sintang, Nunukan (perbatasan dengan Malaysia), Pulau Miangas (dng Filipina), Morotai (dng Timor Leste), Pulau Rote (dng Australia), Papua (dng Papua Nugini), dll.
Memang, mustinya sebagai PNS saya tidak harus berpikir "Apa yang bisa diberikan negara kepadaku" tapi "Berapa...?" eits, maksudnya apa yang bisa kita berikan buat negara kita tercinta.....
Saya mau memberikan sesuatu buat negara ini, tapi toh terkunci. Alangkah bagusnya kalau Bappenas, kantor saya tercinta, kembali memainkan fungsi playmaker yang optimal. Kalau tidak, biarkan manajer menarik ke luar lapangan dan menjadikan sebagai think-tank atau asisten manajer. Tunjuk playmaker lain di lapangan....
Indonesiaku, kamu adalah negara yang tidak tahu mau kemana. Lihatlah sang Merah-Putih, kayaknya dia merasa malu untuk berkibar....
Jumat, Agustus 14, 2009
Surat untuk Anakku
Waktu ayah tulis surat ini, kamu justru sudah tertidur lelap melewatkan detik-detik ulang tahun pertamamu. Sekarang kamu gak ngerti apa yang Ayah tulis untukmu saat ini, tapi waktu yang akan segera membuatmu mengerti. Yah, semoga kamu cepat besar dan mengerti tentang apa yang Ayah ceritakan ini.
Anakku, Ayah sungguh sangat bahagia bisa membesarkanmu hingga umur setahun ini. Itulah mengapa Ayah gak bisa tidur di waktu ulang tahunmu ini.
Anakku, setengah mati Ayah mengusahakan uang yang halal untuk membelikanmu susu. Walaupun begitu Ayah masih sering merasa berdosa karena tidak dapat sepenuhnya yakin akan kemurnian susu yang kamu minum. Ayah hanya bisa pasrah dan menyerahkannya kepada yang Maha Adil, dan berdoa agar semua yang masuk ke tubuhmu adalah berkah dari-Nya. Entar kalau kamu udah besar ikutan bantu Ayah berdoa yah....
Anakku, ayahmu adalah seorang pegawai negeri hebat, walau tak sehebat kakek2mu yang kyai terpandang dan polisi jempolan. Kalau gak percaya ntar kalau kamu udah bisa ngomong tanya sama Mama dan Kakak Sabrina, pasti mereka setuju sama Ayah bahwa PNS juara 1 se Indonesia adalah Ayah. Ha ha ha, Ayah cuman becanda.
Anakku, Ayah belum melakukan apa-apa yang semestinya dilakukan seorang birokrat hebat. Ayah sama seperti kebanyakan birokrat di tanah air yang lemah, pemalas, mata duitan, dan segala macam stigma buruk dari masyarakat yang celakanya memang benar. Ayah sama tidak bergunanya dengan para politisi, jaksa, hakim, polisi, pegawai negeri pusat, daerah, yang seringkali menikmati uang subhat. Ah kamu akan lama mengerti kata subhat, kamu musti ke pesantren dulu untuk mengertinya. Istilah sederhananya meragukan, apakah uang itu didapat secara halal atau tidak.
Anakku, belum lama ini Presiden SBY ketika berpidato tentang RAPBN 2010 merencanakan akan menaikkan harga elpiji dan tarif listrik. Inflasi tahun 2009 ini sebenarnya cukup rendah, bisa cuman 5 persen dari target 6,2 persen . Melihat itu Ayah jadi mikir, apakah karena capaian inflasi yang rendah itulah, Pemerintah berani menaikkan harga komoditas penting. Yah, gaji Ayah akan naik 5 persen tahun depan, dan dengan capaian inflasi yang seperti ini maka gaji riil Ayah tidak pernah naik. Kamu musti belajar ekonomi untuk mengerti gaji riil itu apa. Eh, kok kamu malah tersenyum, masih tidur juga.
Anakku, tanah air kita masih jauh dari sejahtera. Makanya kita masih bersyukur karena kamu masih bisa minum susu. Kalau tahun depan, melihat perkembangan harga minyak yang kayak begini, ada kemungkinan BBM akan naik juga. Kalau ini yang terjadi, berdoalah semoga susu kamu tidak berkurang.
Anakku, sudah lebih 10 tahun Ayahmu jadi birokrat. Selama itu pula Ayah belum kepikir tentang rumah untuk kamu besar. Anakku, mohon maaf kalau nanti waktu main Ayah sama kamu akan berkurang. Ini karena Ayah harus ‘ngojek’ demi rumah masa depan kamu.
Anakku, tetaplah tertawa yang lebar. Hanya tawa kamu itulah yang sanggup melangkahkan kaki Ayah melewati hari-hari yang masygul. Hari-hari penuh keraguan. hari-hari penuh kegelisahan.
Anakku, kantor Ayah adalah kantor yang memiliki tugas untuk memikirkan bagaimana Indonesia menjadi sejahtera. Untuk itu, Ayah juga ingin agar anak2 Indonesia seumur kamu bisa minum susu sepuasnya, makan daging sebanyak2nya, makan buah sampai kekenyangan. Agar kelak manusia2 Indonesia akan menjadi kuat, sehat jiwa dan raganya.
Anakku, tapi aktivitas kantor yang Ayah naungi ini sangat jauh dari harapan. Anak2 Indonesia masih susah minum susu, sedikit sekali makan daging, dan jarang makan buah. Ketika sekolah, mereka susah membeli buku, dan celakanya membayar sekolah. Kuliahpun sekarang menjadi barang yang sangat mewah.
Ayah harap kantor Ayah bisa menjadi lokomotif dalam menyejahterakan bangsa ini. Ayah harap itu tidak menunggu lama, tidak menunggu kamu sudah besar. Tapi kalau sampai pensiun Ayah tidak dapat melakukannya, mungkin tugas kamu untuk melakukannya.
Anakku, hanya ini ucapan ulang tahun dari Ayah. Sekali lagi tetaplah tertawa yang lebar, agar Indonesia ikut tertawa lebar.
Jakarta, 13 Agustus 2009 pukul 23.30 WIB.
Anakku, Ayah sungguh sangat bahagia bisa membesarkanmu hingga umur setahun ini. Itulah mengapa Ayah gak bisa tidur di waktu ulang tahunmu ini.
Anakku, setengah mati Ayah mengusahakan uang yang halal untuk membelikanmu susu. Walaupun begitu Ayah masih sering merasa berdosa karena tidak dapat sepenuhnya yakin akan kemurnian susu yang kamu minum. Ayah hanya bisa pasrah dan menyerahkannya kepada yang Maha Adil, dan berdoa agar semua yang masuk ke tubuhmu adalah berkah dari-Nya. Entar kalau kamu udah besar ikutan bantu Ayah berdoa yah....
Anakku, ayahmu adalah seorang pegawai negeri hebat, walau tak sehebat kakek2mu yang kyai terpandang dan polisi jempolan. Kalau gak percaya ntar kalau kamu udah bisa ngomong tanya sama Mama dan Kakak Sabrina, pasti mereka setuju sama Ayah bahwa PNS juara 1 se Indonesia adalah Ayah. Ha ha ha, Ayah cuman becanda.
Anakku, Ayah belum melakukan apa-apa yang semestinya dilakukan seorang birokrat hebat. Ayah sama seperti kebanyakan birokrat di tanah air yang lemah, pemalas, mata duitan, dan segala macam stigma buruk dari masyarakat yang celakanya memang benar. Ayah sama tidak bergunanya dengan para politisi, jaksa, hakim, polisi, pegawai negeri pusat, daerah, yang seringkali menikmati uang subhat. Ah kamu akan lama mengerti kata subhat, kamu musti ke pesantren dulu untuk mengertinya. Istilah sederhananya meragukan, apakah uang itu didapat secara halal atau tidak.
Anakku, belum lama ini Presiden SBY ketika berpidato tentang RAPBN 2010 merencanakan akan menaikkan harga elpiji dan tarif listrik. Inflasi tahun 2009 ini sebenarnya cukup rendah, bisa cuman 5 persen dari target 6,2 persen . Melihat itu Ayah jadi mikir, apakah karena capaian inflasi yang rendah itulah, Pemerintah berani menaikkan harga komoditas penting. Yah, gaji Ayah akan naik 5 persen tahun depan, dan dengan capaian inflasi yang seperti ini maka gaji riil Ayah tidak pernah naik. Kamu musti belajar ekonomi untuk mengerti gaji riil itu apa. Eh, kok kamu malah tersenyum, masih tidur juga.
Anakku, tanah air kita masih jauh dari sejahtera. Makanya kita masih bersyukur karena kamu masih bisa minum susu. Kalau tahun depan, melihat perkembangan harga minyak yang kayak begini, ada kemungkinan BBM akan naik juga. Kalau ini yang terjadi, berdoalah semoga susu kamu tidak berkurang.
Anakku, sudah lebih 10 tahun Ayahmu jadi birokrat. Selama itu pula Ayah belum kepikir tentang rumah untuk kamu besar. Anakku, mohon maaf kalau nanti waktu main Ayah sama kamu akan berkurang. Ini karena Ayah harus ‘ngojek’ demi rumah masa depan kamu.
Anakku, tetaplah tertawa yang lebar. Hanya tawa kamu itulah yang sanggup melangkahkan kaki Ayah melewati hari-hari yang masygul. Hari-hari penuh keraguan. hari-hari penuh kegelisahan.
Anakku, kantor Ayah adalah kantor yang memiliki tugas untuk memikirkan bagaimana Indonesia menjadi sejahtera. Untuk itu, Ayah juga ingin agar anak2 Indonesia seumur kamu bisa minum susu sepuasnya, makan daging sebanyak2nya, makan buah sampai kekenyangan. Agar kelak manusia2 Indonesia akan menjadi kuat, sehat jiwa dan raganya.
Anakku, tapi aktivitas kantor yang Ayah naungi ini sangat jauh dari harapan. Anak2 Indonesia masih susah minum susu, sedikit sekali makan daging, dan jarang makan buah. Ketika sekolah, mereka susah membeli buku, dan celakanya membayar sekolah. Kuliahpun sekarang menjadi barang yang sangat mewah.
Ayah harap kantor Ayah bisa menjadi lokomotif dalam menyejahterakan bangsa ini. Ayah harap itu tidak menunggu lama, tidak menunggu kamu sudah besar. Tapi kalau sampai pensiun Ayah tidak dapat melakukannya, mungkin tugas kamu untuk melakukannya.
Anakku, hanya ini ucapan ulang tahun dari Ayah. Sekali lagi tetaplah tertawa yang lebar, agar Indonesia ikut tertawa lebar.
Jakarta, 13 Agustus 2009 pukul 23.30 WIB.
Senin, Agustus 10, 2009
Terbanglah Burung Merak Ke Penciptamu
Setelah Mbah SUrip, kali ini si 'burung Merak', WS Rendra.
Saya awalnya orang yang tidak begitu suka dengan puisi. Sampai kuliah pun saya belum menyukai satu puisi-pun walaupun selama kuliah tidak sedikit teman dekat yang ber'profesi' penyair merangkap mahasiswa.
Saya awalnya orang yang tidak begitu suka dengan puisi. Sampai kuliah pun saya belum menyukai satu puisi-pun walaupun selama kuliah tidak sedikit teman dekat yang ber'profesi' penyair merangkap mahasiswa.
Rabu, Agustus 05, 2009
Mbah Surip
Selamat jalan Mbah Surip..... I love you full....
Awal kemunculan Mbah sebenarnya tidak terlalu menarik perhatianku. Entah karena rutinitas harian yang membelengguku atau yang lainnnya, yang jelas aku tak menoleh dengan lantunan lagu Mbah yang jenaka.
Tapi lihatlah dua anakku, waktu itu si kecil masih 9 bulan, dan kakaknya 5 tahun. Keduanya, terutama si kecil, langsung jatuh cinta sama sentuhan musik Mbah yang ringan, ditambah lirik yang sangat gampang dicerna oleh semua lapisan. Dua wajah lugu langsung mengungkapkan kesukaannya kepada Mbah.
Dari situ aku mulai mengikuti perjalanan Mbah. Aku tau ternyata Mbah adalah seorang pejuang sejati dalam arti yang sesungguhnya. Yah Mbah harus berjuang hanya demi secangkir kopi baru kemudian mencari yang lain untuk sesuap nasi. Tapi di tengah deru kehidupan Mbah yang berat, jiwa Mbah yang selalu mengundang keceriaan seolah menghapus mendung yang menggelayuti jiwa Mbah. Beratapkan langit, Mbah terus menyusuri semua sudut ibu pertiwi dengan tertawa. Ha ha ha ha.... Tak terlihat keperihan disana.
Keperihan yang lain adalah kegelisahan dan kerinduan yang dalam akan keluarga. Mbah sangat ingin membahagiakan keluarga, moril dan materiil. Mungkin kasih dan sayang Mbah secara moril pasti tidak terhingga, sebagaiman yang Mbah ucapkan setiap kali... I love you full. Tapi materiil, baru di akhir2 hidup Mbah mulai memberikan. Takdir Tuhan, Mbah memang seperti lebah. Sekali berarti sudah itu mati.
Mbah adalah inspirasi bagi kita semua. Seharusnya para pemimpin berkaca kepada Mbah, mereka harus menghibur rakyatnya. Tidak memberi angin surga, apalagi menakut-nakuti rakyatnya. Mbah memberi contoh bagaimana menikmati hidup di dunia walaupun seberapa pahitnya.
Aku sendiri sudah 10 tahun lebih jadi birokrat. Perjalanan panjang itu banyak suka dan dukanya, tetapi saya lebih banyak mengeluh tentang hal yang buruk2 saja di birokrasi. Disuruh ini-itu yang gak bermutu, makan duit subhat, jalan-jalan tanpa guna, dan lain2. Mbah Surip benar-benar menginspirasi bagaimana melewati waktu sebagai abdi negara yang bisa membuat rakyat tertawa.
Seandainya para birokrat (baik yang karir maupun politik, di lembaga legislatif, eksekutif, maupun yudikatif. Mau PNS, polisi, tentara, hakim, jaksa. Mau presiden, menteri, gubernur, bupati, walikota, sampai lurah) memakai filsafat Mbah, aku yakin tidak akan ada lagi koruptor. Karena koruptor menyakiti hati rakyat, tidak menghibur.
Kalau mereka semua ingin rakyat tertawa, pasti mereka tidak akan bikin anggaran untuk memperbaiki rumah anggota DPR 400 milyar, mobil pejabatnya gak lebih dari 1500 cc, bikin studi cuman buat ngabisin uang aja, manaruh sembarang orang untuk jadi duta besar, direktur dan komisaris BUMN, dan jabatan2 lain.
Kalau semua duit APBN untuk rakyat, pastinya rakyat akan senang. Akan tertawa. Ha ha ha ha.... I love you full....
Sekali lagi, selamat bertemu dengan 'My Darling' Mbah di alam sana.....
Awal kemunculan Mbah sebenarnya tidak terlalu menarik perhatianku. Entah karena rutinitas harian yang membelengguku atau yang lainnnya, yang jelas aku tak menoleh dengan lantunan lagu Mbah yang jenaka.
Tapi lihatlah dua anakku, waktu itu si kecil masih 9 bulan, dan kakaknya 5 tahun. Keduanya, terutama si kecil, langsung jatuh cinta sama sentuhan musik Mbah yang ringan, ditambah lirik yang sangat gampang dicerna oleh semua lapisan. Dua wajah lugu langsung mengungkapkan kesukaannya kepada Mbah.
Dari situ aku mulai mengikuti perjalanan Mbah. Aku tau ternyata Mbah adalah seorang pejuang sejati dalam arti yang sesungguhnya. Yah Mbah harus berjuang hanya demi secangkir kopi baru kemudian mencari yang lain untuk sesuap nasi. Tapi di tengah deru kehidupan Mbah yang berat, jiwa Mbah yang selalu mengundang keceriaan seolah menghapus mendung yang menggelayuti jiwa Mbah. Beratapkan langit, Mbah terus menyusuri semua sudut ibu pertiwi dengan tertawa. Ha ha ha ha.... Tak terlihat keperihan disana.
Keperihan yang lain adalah kegelisahan dan kerinduan yang dalam akan keluarga. Mbah sangat ingin membahagiakan keluarga, moril dan materiil. Mungkin kasih dan sayang Mbah secara moril pasti tidak terhingga, sebagaiman yang Mbah ucapkan setiap kali... I love you full. Tapi materiil, baru di akhir2 hidup Mbah mulai memberikan. Takdir Tuhan, Mbah memang seperti lebah. Sekali berarti sudah itu mati.
Mbah adalah inspirasi bagi kita semua. Seharusnya para pemimpin berkaca kepada Mbah, mereka harus menghibur rakyatnya. Tidak memberi angin surga, apalagi menakut-nakuti rakyatnya. Mbah memberi contoh bagaimana menikmati hidup di dunia walaupun seberapa pahitnya.
Aku sendiri sudah 10 tahun lebih jadi birokrat. Perjalanan panjang itu banyak suka dan dukanya, tetapi saya lebih banyak mengeluh tentang hal yang buruk2 saja di birokrasi. Disuruh ini-itu yang gak bermutu, makan duit subhat, jalan-jalan tanpa guna, dan lain2. Mbah Surip benar-benar menginspirasi bagaimana melewati waktu sebagai abdi negara yang bisa membuat rakyat tertawa.
Seandainya para birokrat (baik yang karir maupun politik, di lembaga legislatif, eksekutif, maupun yudikatif. Mau PNS, polisi, tentara, hakim, jaksa. Mau presiden, menteri, gubernur, bupati, walikota, sampai lurah) memakai filsafat Mbah, aku yakin tidak akan ada lagi koruptor. Karena koruptor menyakiti hati rakyat, tidak menghibur.
Kalau mereka semua ingin rakyat tertawa, pasti mereka tidak akan bikin anggaran untuk memperbaiki rumah anggota DPR 400 milyar, mobil pejabatnya gak lebih dari 1500 cc, bikin studi cuman buat ngabisin uang aja, manaruh sembarang orang untuk jadi duta besar, direktur dan komisaris BUMN, dan jabatan2 lain.
Kalau semua duit APBN untuk rakyat, pastinya rakyat akan senang. Akan tertawa. Ha ha ha ha.... I love you full....
Sekali lagi, selamat bertemu dengan 'My Darling' Mbah di alam sana.....
Senin, Mei 18, 2009
Boediono di Mata Saya
Pak Boediono, mungkin Bapak tidak akan mengingat satu momen di tahun 1999, waktu itu keluarga Bapak dalam suasana makan sahur di bulan Ramadhan, lalu ada 2 orang pegawai Bappenas yang datang ke rumah Bapak di Mampang. Yang satu seumur Bapak, yang satu lagi masih sangat muda, mereka mengantar draft nota keuangan untuk RAPBN 1999/2000 yang masih dalam status rahasia. Seperti biasa, Bapak tersenyum hangat, dan si anak muda sangat bangga ikut melakukan sesuatu yang penting bagi bangsa…
Anak muda itu, ya saya sendiri. 10 tahun yang lalu Bapak masih kelihatan segar dan muda, apalagi saya…. eits, malah ngomongin yang gak penting….
Lupakan saja itu, saya yakin Bapak gak bakalan ingat, tetapi jika ini dibaca oleh orang2 yang mencap Bapak itu Islam abangan alias KTP doang, maka momen itu yang akan menepis anggapan itu. Stigma itu melekat dan sudah tersebar luas di kalangan Bappenas. Tapi saya tidak begitu risau dengan itu, bagi saya manusia di mata Tuhan adalah berdasarkan ikhlas hatinya serta perbuatan yang dilakukan.
Hari Jumat kemarin, Bapak resmi jadi cawapres mendampingi SBY. SBY-Boediono adalah sama2 orang Jawa Timur, sama seperti saya juga. Kampung SBY di Pacitan, Bapak di mBlitar, saya sendiri di mBatu, satu setengah jam dari tempat Bapak (biasanya orang Jawa suka menambahkan huruf m untuk menyebut kota2 yang berawalan B). Tapi perilaku Bapak dan SBY sangat2 bukan orang Jatim. Anda berdua terlalu santun. Tapi sekali lagi, buat apa manis di mulut tapi pahit di hati. Bukankah Tuhan hanya menilai makhluknya dari perbuatan dan hatinya, bukan kemanisan mulut yang beracun. Mudah2an tidak ada racun itu.... Saya harap, bangsa ini tidak memilih Bapak karena gaya Bapak, tapi lebih atas kemampuan Bapak mengangkat bangsa ini dari keterpurukan.
Dengan Bapak jadi cawapres, saya sangat bangga. Pertama, satu2nya birokrat yang awal karirnya dari Bappenas menjadi cawapres (Bapak sebelumnya penuh menjadi dosen di UGM, lalu masuk Bappenas dan langsung menjadi eselon 1), dulu Pak Emil Salim gagal menjadi calon, lalu karir politiknya selesai. Kedua, Bapak adalah seorang ekonom, ini akan menjadi lompatan agar para ekonom tidak lagi berkoar di belakang meja, tapi juga turut ‘nyemplung’ menangani masalah. Banyak ekonom di Bappenas yang bahasa kerennya under-employment. Pekerjaan D-3, tapi ijazah S-3. Atau ijazah S-3, kualitas D-3 (hue he he he)....
Bapak menjadi cawapres dengan stigma yang lain di luar abangan, yaitu agen neoliberal. Ini apa juntrungannya, saya sendiri gak begitu mengerti. Mungkin, Bapak dianggap sebagai ‘pemuja’ pasar bebas. Gimana cara menilainya, saya sendiri gak paham. Saya juga gak tertarik atas pembicaraan ini. Saya lebih tertarik membicarakan prestasi Bapak.
Sepanjang karir Bapak, lompatan terbesar adalah ketika Bapak menjadi Deputi Fiskal dan Moneter di Bappenas tahun 1988 lalu. Setelah sebelumnya berkutat dengan kampus dan penelitian, Bapak masuk sebagai pengambil kebijakan. Lompatan kedua adalah ketika Bapak menjadi Kepala Bappenas setelah ‘menganggur’ selama 1 tahun lebih setelah Bapak diberhentikan dari jabatan Direktur BI (level sekarang Deputi). Setelah lompatan yang kedua ini, Bapak mendapatkan kesempatan yang besar untuk menjadi bagian pengambil kebijakan2 penting di Indonesia, sampai kini. Jadi, kantor di Taman Suropati ini adalah kawah candradimuka bagi Bapak untuk mengembangkan sayap di perpolitikan tanah air.
Prestasi Bapak di birokrasi dan sebagai pengambil kebijakan, dari pengamatan saya, adalah biasa-biasa saja.
Ketika selama 5 tahun Bapak menjadi Deputi Fiskal dan Moneter di Bappenas (1988-1993) tidak ada yang menonjol selama kurun waktu tersebut. Mungkin juga karena kebijakan2 sebelumnya yang memang sudah berjalan tinggal melanjutkan saja. Sebenarnya ada ruang bagi Bapak untuk membuat terobosan, yaitu memikirkan kembali konsep fixed rate pada kurs rupiah. Seandainya Bapak mulai melontarkan gagasan pada saat itu, mungkin saya masih bisa menikmati 1 dollar As sebesar Rp. 2500.
Setelah itu, Bapak ke BI, ini yang saya tidak tahun prestasi Bapak. Yang jelas, pada tahun 1997 Bapak terpaksa kembali cuman menyandang sebagai dosen FE UGM. Perbankan Indonesia mengalami masa paling buruk justru ketika Bapak menjadi pimpinan di BI. Kenapa Bapak diturunkan bersamaan dengan beberapa Direktur yang kemudian bermasalah hukum, saya sendiri kurang tahu. Sampai sekarang, toh Bapak aman2 aja.
Nah, setelah itu Bapak oleh Habibie dinaikkan lagi untuk kembali ke Taman Suropati, kali ini memimpin Bappenas. Saat itu pula saya bergabung ke Bappenas, di kedeputian yang mengurusi APBN.
Ini beberapa catatan saya. Pertama, Bapak memimpin tim dalam melakukan penjadwalan ulang pembayaran pinjaman luar negeri. Bapak sukses dalam misi tersebut, tapi membebankan utang tersebut kepada generasi mendatang.
Kedua, Bapak adalah salah satu pengambil keputusan dalam penandatanganan Letter of Intent (LoI) Indonesia-IMF. Ini konsekuensinya lumayan banyak. Dari adanya utang domestik yang sangat besar, sampai setengahnya PDB (ditambah utang luar negeri maka jumlahnya mencapai 90-95 persen dari PDB), privatisasi BUMN, lalu pemisahan BI dari struktur pemerintahan, serta menjadikan Departemen Keuangan sebagai lembaga super power. Sebenarnya masih banyak sih, cuman waktu itu males bacanya, jadinya ya nggak bisa akurat.
Lalu, sekarang bapak adalah seorang politisi yang ekonom, atau ekonom yang politisi. Tapi lebih bagus Bapak adalah politisi yang ekonom. Kenapa? Karena ekonom adalah agen yang bisa meminimalkan biaya dengan pencapaian tujuan yang maksimal (kalau bapak mengajar mungkin bunyinya begini: minimize cost subject to output... he he he). Dengan biaya sedikit untuk mencapai posisi wapres. Bener2 brilian untuk hal yang satu ini.
Jika Bapak nanti terpilih jadi wapres mungkin Bapak harus memikirkan seseorang ini.
Pak Sahroni, dia tukang jualan gado2 di belakang Bappenas. Bapak mungkin gak kenal dia, tapi makanan yang ada di meja Bapak sesekali adalah dari tangan Pak Sahroni. Dia beserta konco2nya ingin hidupnya lebih tenang. Dia ingin mendapatkan iklim ‘pasar bebas’ dimana ketika mereka jualah tidak harus berhadapan dengan pungutan2 serta petugas ketertiban yang suka kucing2an dengan mereka.
Pak Sahroni ini, di Indonesia jumlahnya 65 persen (atau lebih dari 70 juta jiwa) dari seluruh tenaga kerja aktif di Indonesia (dari data BPS, orang dengan status pekerjaan 1 dan 2: usaha sendiri tanpa pegawai dan usaha dengan dibantu sedikit pegawai). Bapak boleh memperhatikan pasar modal (yang biasanya menjadi tolak ukur bahwa pasar bergerak positif dan negatif) yang hanya melibatkan kurang dari 1 juta orang.
Orang model Pak Sahroni ini banyak yang manjadi petani, nelayan, pedagang kecil, dll. Sebagian besar masih miskin. Cobalah main ke Pasar Minggu (Bapak kan tinggal di Mampang, deket kok ke Pasar Minggu) pas subuh. Disitu, banyak ibu2 yang menjadi pedagang tangguh tapi penghasilannya sangat2 kecil. Atau Bapak bisa ke pinggiran pantai, mulai dari Muara Angke aja yang deket, disitu nelayan juga banyak yang hidupnya pas2an. Petani, apalagi.
Ilmu ekonomi yang Bapak pelajari dan ajarkan sangat jauh dari penyelesaian masalah2 ini. Dan Bapak oleh SBY ‘dijerumuskan’ untuk menyelesaikan masalah itu.
Untuk Bappenas, baiknya Bapak sekalian membubarkannya sekalian. Kalau tidak, berarti ada sharing power dengan Depkeu, mengembalikan anggaran pembangunan ke Bappenas. Bubar atau tidak, seharusnya remunerasi bisa dinikmati semua PNS, tidak hanya pegawai Depkeu. Kalau memang lembaganya gak penting, bubarkan.
Sebenarnya saya ‘ngeman’ kalau Bapak jadi wapres. Lebih bagus Bapak jadi Gubernur BI, lebih cocok dan sesuai dengan keahlian Bapak. Kalau memakai lagu Padi, syairnya adalah... tetaplah menjadi bintang di langit....
Tapi sudahlah, tawaran sudah Bapak terima, meskipun saya gak yakin Bapak akan berhasil..... berjalanlan......
Anak muda itu, ya saya sendiri. 10 tahun yang lalu Bapak masih kelihatan segar dan muda, apalagi saya…. eits, malah ngomongin yang gak penting….
Lupakan saja itu, saya yakin Bapak gak bakalan ingat, tetapi jika ini dibaca oleh orang2 yang mencap Bapak itu Islam abangan alias KTP doang, maka momen itu yang akan menepis anggapan itu. Stigma itu melekat dan sudah tersebar luas di kalangan Bappenas. Tapi saya tidak begitu risau dengan itu, bagi saya manusia di mata Tuhan adalah berdasarkan ikhlas hatinya serta perbuatan yang dilakukan.
Hari Jumat kemarin, Bapak resmi jadi cawapres mendampingi SBY. SBY-Boediono adalah sama2 orang Jawa Timur, sama seperti saya juga. Kampung SBY di Pacitan, Bapak di mBlitar, saya sendiri di mBatu, satu setengah jam dari tempat Bapak (biasanya orang Jawa suka menambahkan huruf m untuk menyebut kota2 yang berawalan B). Tapi perilaku Bapak dan SBY sangat2 bukan orang Jatim. Anda berdua terlalu santun. Tapi sekali lagi, buat apa manis di mulut tapi pahit di hati. Bukankah Tuhan hanya menilai makhluknya dari perbuatan dan hatinya, bukan kemanisan mulut yang beracun. Mudah2an tidak ada racun itu.... Saya harap, bangsa ini tidak memilih Bapak karena gaya Bapak, tapi lebih atas kemampuan Bapak mengangkat bangsa ini dari keterpurukan.
Dengan Bapak jadi cawapres, saya sangat bangga. Pertama, satu2nya birokrat yang awal karirnya dari Bappenas menjadi cawapres (Bapak sebelumnya penuh menjadi dosen di UGM, lalu masuk Bappenas dan langsung menjadi eselon 1), dulu Pak Emil Salim gagal menjadi calon, lalu karir politiknya selesai. Kedua, Bapak adalah seorang ekonom, ini akan menjadi lompatan agar para ekonom tidak lagi berkoar di belakang meja, tapi juga turut ‘nyemplung’ menangani masalah. Banyak ekonom di Bappenas yang bahasa kerennya under-employment. Pekerjaan D-3, tapi ijazah S-3. Atau ijazah S-3, kualitas D-3 (hue he he he)....
Bapak menjadi cawapres dengan stigma yang lain di luar abangan, yaitu agen neoliberal. Ini apa juntrungannya, saya sendiri gak begitu mengerti. Mungkin, Bapak dianggap sebagai ‘pemuja’ pasar bebas. Gimana cara menilainya, saya sendiri gak paham. Saya juga gak tertarik atas pembicaraan ini. Saya lebih tertarik membicarakan prestasi Bapak.
Sepanjang karir Bapak, lompatan terbesar adalah ketika Bapak menjadi Deputi Fiskal dan Moneter di Bappenas tahun 1988 lalu. Setelah sebelumnya berkutat dengan kampus dan penelitian, Bapak masuk sebagai pengambil kebijakan. Lompatan kedua adalah ketika Bapak menjadi Kepala Bappenas setelah ‘menganggur’ selama 1 tahun lebih setelah Bapak diberhentikan dari jabatan Direktur BI (level sekarang Deputi). Setelah lompatan yang kedua ini, Bapak mendapatkan kesempatan yang besar untuk menjadi bagian pengambil kebijakan2 penting di Indonesia, sampai kini. Jadi, kantor di Taman Suropati ini adalah kawah candradimuka bagi Bapak untuk mengembangkan sayap di perpolitikan tanah air.
Prestasi Bapak di birokrasi dan sebagai pengambil kebijakan, dari pengamatan saya, adalah biasa-biasa saja.
Ketika selama 5 tahun Bapak menjadi Deputi Fiskal dan Moneter di Bappenas (1988-1993) tidak ada yang menonjol selama kurun waktu tersebut. Mungkin juga karena kebijakan2 sebelumnya yang memang sudah berjalan tinggal melanjutkan saja. Sebenarnya ada ruang bagi Bapak untuk membuat terobosan, yaitu memikirkan kembali konsep fixed rate pada kurs rupiah. Seandainya Bapak mulai melontarkan gagasan pada saat itu, mungkin saya masih bisa menikmati 1 dollar As sebesar Rp. 2500.
Setelah itu, Bapak ke BI, ini yang saya tidak tahun prestasi Bapak. Yang jelas, pada tahun 1997 Bapak terpaksa kembali cuman menyandang sebagai dosen FE UGM. Perbankan Indonesia mengalami masa paling buruk justru ketika Bapak menjadi pimpinan di BI. Kenapa Bapak diturunkan bersamaan dengan beberapa Direktur yang kemudian bermasalah hukum, saya sendiri kurang tahu. Sampai sekarang, toh Bapak aman2 aja.
Nah, setelah itu Bapak oleh Habibie dinaikkan lagi untuk kembali ke Taman Suropati, kali ini memimpin Bappenas. Saat itu pula saya bergabung ke Bappenas, di kedeputian yang mengurusi APBN.
Ini beberapa catatan saya. Pertama, Bapak memimpin tim dalam melakukan penjadwalan ulang pembayaran pinjaman luar negeri. Bapak sukses dalam misi tersebut, tapi membebankan utang tersebut kepada generasi mendatang.
Kedua, Bapak adalah salah satu pengambil keputusan dalam penandatanganan Letter of Intent (LoI) Indonesia-IMF. Ini konsekuensinya lumayan banyak. Dari adanya utang domestik yang sangat besar, sampai setengahnya PDB (ditambah utang luar negeri maka jumlahnya mencapai 90-95 persen dari PDB), privatisasi BUMN, lalu pemisahan BI dari struktur pemerintahan, serta menjadikan Departemen Keuangan sebagai lembaga super power. Sebenarnya masih banyak sih, cuman waktu itu males bacanya, jadinya ya nggak bisa akurat.
Lalu, sekarang bapak adalah seorang politisi yang ekonom, atau ekonom yang politisi. Tapi lebih bagus Bapak adalah politisi yang ekonom. Kenapa? Karena ekonom adalah agen yang bisa meminimalkan biaya dengan pencapaian tujuan yang maksimal (kalau bapak mengajar mungkin bunyinya begini: minimize cost subject to output... he he he). Dengan biaya sedikit untuk mencapai posisi wapres. Bener2 brilian untuk hal yang satu ini.
Jika Bapak nanti terpilih jadi wapres mungkin Bapak harus memikirkan seseorang ini.
Pak Sahroni, dia tukang jualan gado2 di belakang Bappenas. Bapak mungkin gak kenal dia, tapi makanan yang ada di meja Bapak sesekali adalah dari tangan Pak Sahroni. Dia beserta konco2nya ingin hidupnya lebih tenang. Dia ingin mendapatkan iklim ‘pasar bebas’ dimana ketika mereka jualah tidak harus berhadapan dengan pungutan2 serta petugas ketertiban yang suka kucing2an dengan mereka.
Pak Sahroni ini, di Indonesia jumlahnya 65 persen (atau lebih dari 70 juta jiwa) dari seluruh tenaga kerja aktif di Indonesia (dari data BPS, orang dengan status pekerjaan 1 dan 2: usaha sendiri tanpa pegawai dan usaha dengan dibantu sedikit pegawai). Bapak boleh memperhatikan pasar modal (yang biasanya menjadi tolak ukur bahwa pasar bergerak positif dan negatif) yang hanya melibatkan kurang dari 1 juta orang.
Orang model Pak Sahroni ini banyak yang manjadi petani, nelayan, pedagang kecil, dll. Sebagian besar masih miskin. Cobalah main ke Pasar Minggu (Bapak kan tinggal di Mampang, deket kok ke Pasar Minggu) pas subuh. Disitu, banyak ibu2 yang menjadi pedagang tangguh tapi penghasilannya sangat2 kecil. Atau Bapak bisa ke pinggiran pantai, mulai dari Muara Angke aja yang deket, disitu nelayan juga banyak yang hidupnya pas2an. Petani, apalagi.
Ilmu ekonomi yang Bapak pelajari dan ajarkan sangat jauh dari penyelesaian masalah2 ini. Dan Bapak oleh SBY ‘dijerumuskan’ untuk menyelesaikan masalah itu.
Untuk Bappenas, baiknya Bapak sekalian membubarkannya sekalian. Kalau tidak, berarti ada sharing power dengan Depkeu, mengembalikan anggaran pembangunan ke Bappenas. Bubar atau tidak, seharusnya remunerasi bisa dinikmati semua PNS, tidak hanya pegawai Depkeu. Kalau memang lembaganya gak penting, bubarkan.
Sebenarnya saya ‘ngeman’ kalau Bapak jadi wapres. Lebih bagus Bapak jadi Gubernur BI, lebih cocok dan sesuai dengan keahlian Bapak. Kalau memakai lagu Padi, syairnya adalah... tetaplah menjadi bintang di langit....
Tapi sudahlah, tawaran sudah Bapak terima, meskipun saya gak yakin Bapak akan berhasil..... berjalanlan......
Rabu, Mei 13, 2009
Kado Ultah untuk Istri
untuk istriku tercinta,
13 Mei 2009, berarti hari ini kamu ultah. Aku hanya memberi ucapan selamat ketika bangun pagi, sebagaimana ultah2 kamu yang lalu. Selalu tidak ada kado, karena memang hanya ucapan selamat yang aku mampu.
Aku belum mampu memberikan rumah, atau mobil. Mungkin kalau Indonesia sudah sejahtera baru aku mampu memberi sesuatu. Tapi kapan?
Birokrat gak pernah dihargai. Kenapa mereka selalu digaji dengan sangat minim. Kemana otak para penguasa itu? Para birokrat politik itu lebih suka birokrat gampang diajak kong kalikong untuk memenuhi kantong mereka.
Birokrat yg korup ada dimana2. Mereka sangat kaya raya, dan gak bakalan ditangkaop KPK. KPK hanya akan menangkap mereka yg jumlah korupnya fantastis. Birokrat ini licin, mereka ngambil sedikit demi sedikit (walaupun besar juga untuk ukuran birokrat)....
Atau menjadikan anggaran pemerintah jadi nggak efisien. Beli mobil dinas yg mewah, lalu dipindahtangankan sebagai milik pribadi di akhir masa pakai. Dll.
Berbahagialah teman2 di Depkeu yang punya penghasilah 5 - 10 kali lipat dari PNS yang lain.
Mudah2an ada kekuatan politik yang akan membuat perubahan. Birokrat harus kuat, efisien, efektif dan mampu melayani masyarakat. Dan itu musti sejahtera.
Sudahlah istriku, aku hanya pegawai biasa di belantara birokrasi.
Istriku, aku sangat bangga sama kamu, yang nggak pernah menampakkan sedih dan gundah ketika kita kekurangan uang. Ketika tanggal di kalender mulai menua, kamu tak pernah risau. Aku justru berterima kasih atas kekuatan ini, kalau tidak mungkin aku sudah tidak lagi menjadi birokrat....
Sekali lagi, selamat ulang tahun istriku. Mudah2an Tuhan terus menyayangi kita, dan tentu Indonesia. Mudah2an kita masih punya harapan akan Indonesia yang sejahtera, dan tentu kita akan ikutan sejahtera.... Amin.
suamimu,
udin
13 Mei 2009, berarti hari ini kamu ultah. Aku hanya memberi ucapan selamat ketika bangun pagi, sebagaimana ultah2 kamu yang lalu. Selalu tidak ada kado, karena memang hanya ucapan selamat yang aku mampu.
Aku belum mampu memberikan rumah, atau mobil. Mungkin kalau Indonesia sudah sejahtera baru aku mampu memberi sesuatu. Tapi kapan?
Birokrat gak pernah dihargai. Kenapa mereka selalu digaji dengan sangat minim. Kemana otak para penguasa itu? Para birokrat politik itu lebih suka birokrat gampang diajak kong kalikong untuk memenuhi kantong mereka.
Birokrat yg korup ada dimana2. Mereka sangat kaya raya, dan gak bakalan ditangkaop KPK. KPK hanya akan menangkap mereka yg jumlah korupnya fantastis. Birokrat ini licin, mereka ngambil sedikit demi sedikit (walaupun besar juga untuk ukuran birokrat)....
Atau menjadikan anggaran pemerintah jadi nggak efisien. Beli mobil dinas yg mewah, lalu dipindahtangankan sebagai milik pribadi di akhir masa pakai. Dll.
Berbahagialah teman2 di Depkeu yang punya penghasilah 5 - 10 kali lipat dari PNS yang lain.
Mudah2an ada kekuatan politik yang akan membuat perubahan. Birokrat harus kuat, efisien, efektif dan mampu melayani masyarakat. Dan itu musti sejahtera.
Sudahlah istriku, aku hanya pegawai biasa di belantara birokrasi.
Istriku, aku sangat bangga sama kamu, yang nggak pernah menampakkan sedih dan gundah ketika kita kekurangan uang. Ketika tanggal di kalender mulai menua, kamu tak pernah risau. Aku justru berterima kasih atas kekuatan ini, kalau tidak mungkin aku sudah tidak lagi menjadi birokrat....
Sekali lagi, selamat ulang tahun istriku. Mudah2an Tuhan terus menyayangi kita, dan tentu Indonesia. Mudah2an kita masih punya harapan akan Indonesia yang sejahtera, dan tentu kita akan ikutan sejahtera.... Amin.
suamimu,
udin
Senin, Mei 04, 2009
Cerita dari Seorang Birokrat Peneliti Nuklir
Suasana kantor saya paska Pileg ini aneh, auranya membuat malas. Apa karena jagoan saya kalah, atau sudah terbayang dalam 5 tahun ke depan saya akan tetap berbengong ria di kantor. Ngerjain sesuatu yang asal, karena tidak berguna. Satu2nya yang bagus adalah tiap sore saya dan bbrp temen ngobrol politik, lebih seru dari talkshow2 politik di TV One maupun Metro TV.
Saya udah sangat jenuh dengan itu semua, tidak banyak melakukan hal yang positif, lalu ada teman kantor mengajak jalan untuk ngeliat PLTP Kamojang, 40 menit dari Garut. Ajakan yang langsung saya sambut mengingat 4 bulan ini honor tambahan di luar gaji saya rasakan sangat seret. Bagi PNS, keberadaan horor, eh, honor2 ini sangatlah penting dan signifikan untuk kehidupan yang pas sebulan, bukan 2 minggu dalam sebulan. Kalau tidak itu akan menjadi horor beneran....
Udahlah, biarin aja nasib para birokrat karir itu tetep miskin, kali ini saya akan mengajak teman2 untuk berkenalan dengan sosok birokrat peneliti yang hebat tapi ya harus bersahaja. Ini hasil selama Senin dan Selasa kemarin di Garut dan Kamojang.
Dr. Zainal Abidin, panggil aja Pak Jay biar keren, umurnya kini 55 tahun, adalah salah satu (mungkin satu-satunya) pakar nuklir untuk aplikasi isotop dan radiasi khususnya untuk eksplorasi geologi. Pembawaannya sederhana, bicaranya serius, juga ketika mendengarkan. Dia adalah salah satu kepala pusat di BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional) dan membawahi beberapa puluh peneliti nuklir. Gelar doktornya dia dapat dari New Zealand dalam bidang aplikasi nuklir untuk teknologi listrik tenaga panas bumi. New Zealand adalah negara pertama yang punya PLTP, dan dia sudah mendapat gelar tertinggi akademik dari sana. Jadi gak usah lama2 untuk menilai seberapa hebat si Pak Jay ini.
Selama makan malam dengan Pak Jay ini, secara sabar beliau menceritakan dan menjelaskan nuklir yang dapat digunakan untuk kehidupan yang lebih baik, tidak hanya untuk sekelompok masyarakat, tapi seluruh bangsa Indonesia. Saya bilang background saya ekonom, maka dia mulai memberikan pencerahan yang lebih terstruktur dan lebih dapat dicerna buat mereka yang awam.
Oh iya, kenapa dia pengen cerita banyak sama saya, lha saya ini siapa. "Apalah awak ini?" gitu biasanya si Bujang yg temen Naga Bonar ngomong dan suka ditiruin Pak Adhi, senior saya di kantor yang udah jadi pejabat.
Dasar orang baik dan lurus (sesuai ilmunya yang eksak banget), Pak Jay ini menganggap saya sebagai corong yang potensial untuk memasyarakatkan ide2nya. Mungkin dalam bayangan dia, jika aplikasi nuklir terapan masuk dalam RPJM dan RPJP (ini kayak Repelita dan GBHN jaman Soeharto), wah pasti akan banyak dampak positifnya bagi masyarakat Indonesia. Mendengar seperti itu, reflek saya ngelus2 jenggot, padahal gak pernah jenggotan.
Bbrp yg saya tangkap (mohon maklum atas kelemotan saya), aplikasi radiasi bisa dipakai untuk membantu UKM makanan yang buanyak buanget di seluruh Indonesia dalam hal pengawetan. Dia bilang, makanan bisa awet sampai sekian waktu, satu yang jadi percobaan dia adalah 9 bulan untuk rendang, sebulan untuk arem2, dan beberapa yg saya lupa (gak nyatet boooo). Biayanya murah, cuman membangun teknologinya saya yang sedikit memerlukan investasi. Teknologi radiasi untuk pengawet makanan ini sudah diterapkan di negara2 maju. Disamping makanan, buah juga bisa lho, saya sampai manggut2 saking herannya.
Saya pikir2, wah ini bisa membuat distribusi makanan2 tersebut lebih luas. Karena ada waktu tambahan. Juga tidak banyak produk yang terbuang karena cepat kedaluarsa. Dan ini sangaaaaaaat aman dikonsumsi, dan tidak mengurangi kandungan gizi.
Dia terus bercerita lagi, Bappenas perlu membuat masyarakat terbuka terhadap nuklir. Nuklir bukan hanya bom Hiroshima dan Nagasaki, tapi banyak yang bisa dilakukan untuk mensejahterakan masyarakat. Salah satunya untuk listrik. Dia menekankan, Indonesia punya ahlinya, dan secara bertahap kita akan bisa mewujudkan sebuah PLTN. Wah dalam bayangan saya, ini udah kayak di Jerman dan Perancis nih, dimana listriknya juga dari nuklir....
Itu hanya sedikit potensi yang saya tangkap, yang lain masih banyak lagi...
Lalu, mulai dia ceritakan kehidupan birokrat peneliti. "Berat Mas kita mencegah brain drain". Yah, tawaran mengalir deras untuk kolega dan anak buah Pak Jay ini. "Tapi semenjak ada tunjangan penelitian yang 5 jutaan per bulan, mereka udah mulai happy". Yah, mereka dengan take home pay dibawah 10 juta dengan keahlian nuklir masih bersyukur dengan hal itu....
Saya merenung, kok potensi bangsa ini dibiarkan carut marut tidak termanfaatkan. Ada apa dengan Istana Negara dan Senayan, kok yang begini ini terabaikan. Pak Jay dan kolega2nya adalah individu2 yang siap mensejajarkan Indonesia dengan semua negara maju di dunia.
Mungkin Soekarno benar, bahwa dia tidak ingin mengeksplorasi kekayaan alam Indonesia sebelum ada ahlinya. Ketika kita udah punya ahlinya, mereka tidak ada tempat karena udah banyak 'orang lain' yang mengeksplornya.
Sampai kantor, tiba2 kepala saya pusing ketika di depan meja saya teronggok RPJM dan RPJP....
Saya udah sangat jenuh dengan itu semua, tidak banyak melakukan hal yang positif, lalu ada teman kantor mengajak jalan untuk ngeliat PLTP Kamojang, 40 menit dari Garut. Ajakan yang langsung saya sambut mengingat 4 bulan ini honor tambahan di luar gaji saya rasakan sangat seret. Bagi PNS, keberadaan horor, eh, honor2 ini sangatlah penting dan signifikan untuk kehidupan yang pas sebulan, bukan 2 minggu dalam sebulan. Kalau tidak itu akan menjadi horor beneran....
Udahlah, biarin aja nasib para birokrat karir itu tetep miskin, kali ini saya akan mengajak teman2 untuk berkenalan dengan sosok birokrat peneliti yang hebat tapi ya harus bersahaja. Ini hasil selama Senin dan Selasa kemarin di Garut dan Kamojang.
Dr. Zainal Abidin, panggil aja Pak Jay biar keren, umurnya kini 55 tahun, adalah salah satu (mungkin satu-satunya) pakar nuklir untuk aplikasi isotop dan radiasi khususnya untuk eksplorasi geologi. Pembawaannya sederhana, bicaranya serius, juga ketika mendengarkan. Dia adalah salah satu kepala pusat di BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional) dan membawahi beberapa puluh peneliti nuklir. Gelar doktornya dia dapat dari New Zealand dalam bidang aplikasi nuklir untuk teknologi listrik tenaga panas bumi. New Zealand adalah negara pertama yang punya PLTP, dan dia sudah mendapat gelar tertinggi akademik dari sana. Jadi gak usah lama2 untuk menilai seberapa hebat si Pak Jay ini.
Selama makan malam dengan Pak Jay ini, secara sabar beliau menceritakan dan menjelaskan nuklir yang dapat digunakan untuk kehidupan yang lebih baik, tidak hanya untuk sekelompok masyarakat, tapi seluruh bangsa Indonesia. Saya bilang background saya ekonom, maka dia mulai memberikan pencerahan yang lebih terstruktur dan lebih dapat dicerna buat mereka yang awam.
Oh iya, kenapa dia pengen cerita banyak sama saya, lha saya ini siapa. "Apalah awak ini?" gitu biasanya si Bujang yg temen Naga Bonar ngomong dan suka ditiruin Pak Adhi, senior saya di kantor yang udah jadi pejabat.
Dasar orang baik dan lurus (sesuai ilmunya yang eksak banget), Pak Jay ini menganggap saya sebagai corong yang potensial untuk memasyarakatkan ide2nya. Mungkin dalam bayangan dia, jika aplikasi nuklir terapan masuk dalam RPJM dan RPJP (ini kayak Repelita dan GBHN jaman Soeharto), wah pasti akan banyak dampak positifnya bagi masyarakat Indonesia. Mendengar seperti itu, reflek saya ngelus2 jenggot, padahal gak pernah jenggotan.
Bbrp yg saya tangkap (mohon maklum atas kelemotan saya), aplikasi radiasi bisa dipakai untuk membantu UKM makanan yang buanyak buanget di seluruh Indonesia dalam hal pengawetan. Dia bilang, makanan bisa awet sampai sekian waktu, satu yang jadi percobaan dia adalah 9 bulan untuk rendang, sebulan untuk arem2, dan beberapa yg saya lupa (gak nyatet boooo). Biayanya murah, cuman membangun teknologinya saya yang sedikit memerlukan investasi. Teknologi radiasi untuk pengawet makanan ini sudah diterapkan di negara2 maju. Disamping makanan, buah juga bisa lho, saya sampai manggut2 saking herannya.
Saya pikir2, wah ini bisa membuat distribusi makanan2 tersebut lebih luas. Karena ada waktu tambahan. Juga tidak banyak produk yang terbuang karena cepat kedaluarsa. Dan ini sangaaaaaaat aman dikonsumsi, dan tidak mengurangi kandungan gizi.
Dia terus bercerita lagi, Bappenas perlu membuat masyarakat terbuka terhadap nuklir. Nuklir bukan hanya bom Hiroshima dan Nagasaki, tapi banyak yang bisa dilakukan untuk mensejahterakan masyarakat. Salah satunya untuk listrik. Dia menekankan, Indonesia punya ahlinya, dan secara bertahap kita akan bisa mewujudkan sebuah PLTN. Wah dalam bayangan saya, ini udah kayak di Jerman dan Perancis nih, dimana listriknya juga dari nuklir....
Itu hanya sedikit potensi yang saya tangkap, yang lain masih banyak lagi...
Lalu, mulai dia ceritakan kehidupan birokrat peneliti. "Berat Mas kita mencegah brain drain". Yah, tawaran mengalir deras untuk kolega dan anak buah Pak Jay ini. "Tapi semenjak ada tunjangan penelitian yang 5 jutaan per bulan, mereka udah mulai happy". Yah, mereka dengan take home pay dibawah 10 juta dengan keahlian nuklir masih bersyukur dengan hal itu....
Saya merenung, kok potensi bangsa ini dibiarkan carut marut tidak termanfaatkan. Ada apa dengan Istana Negara dan Senayan, kok yang begini ini terabaikan. Pak Jay dan kolega2nya adalah individu2 yang siap mensejajarkan Indonesia dengan semua negara maju di dunia.
Mungkin Soekarno benar, bahwa dia tidak ingin mengeksplorasi kekayaan alam Indonesia sebelum ada ahlinya. Ketika kita udah punya ahlinya, mereka tidak ada tempat karena udah banyak 'orang lain' yang mengeksplornya.
Sampai kantor, tiba2 kepala saya pusing ketika di depan meja saya teronggok RPJM dan RPJP....
Selasa, April 07, 2009
Tentang Pemilu 2009: Curhat Seorang Birokrat
Pemilu 2009 tinggal menghitung hari. Baru kali ini saya ingin berharap sesuatu sama pemilu, dan sayangnya harapan itu hampir mustahil didapatkan. Terlepas dari potensi kacau-balaunya pemilu 2009, mudah2an ada sedikit asa yang bisa menyambungkannya kepada kuasa tuhan.
Yah, setelah 10 tahun di jantung birokrasi pemerintah pusat (saya ngerasain betapa Bappenas sangat powerful dan high profile tapi juga sangat high product pada 2 tahun pertama, selanjutnya semakin loyo, tidak bergairah dan semakin memble) saya merasakan betapa pentingnya Pemilu bagi birokrasi.
Pemilu adalah alat untuk memilih CEO Indonesia alias presiden dalam mengelola sekitar 1000 trilyun rupiah lebih dalam setahun, dengan kontrak 5 tahun. Kalau angka itu APBN 2009, maka angka dalam periode 5 tahun kedepan akan terus meningkat. Tujuan utamanya menyejahterakan rakyat secara keseluruhan, bukan sebagian. Kalau presiden mengangkat menteri2 tetapi tidak ngerti mengelola anggaran, atau tidak mau tau, ya wassalam. Kalau yg gak mau tau biasanya cuman mementingkan setoran bersih.... Kalau anggaran di daerah, kan bisa memberikan koridor melalui Menkeu dan Mendagri agar uang APBD2 itu tidak menjadi ‘bancakan’ pejabat2 daerah. Koridor kayak apa? Ok saya kasih contoh satu, PEMBATASAN MOBIL DINAS!!!!
Lalu, kalu menteri2 itu tidak kompeten, pasti akan mengangkat pejabat2 karir yg tidak beres juntrungannya....
Birokrasi, bukan hanya PNS doing tetapi juga kepada keseluruhan penyelenggara Negara. Kalau PNS adalah birokrat karir, sedangkan birokrasi disini termasuk birokrat dengan proses politik (presiden, gubernur, bupati/walikota, DPR, DPRD, dan DPD), political appointee (Menteri, Kepala Badan, MA, BPK, Komisi2, BI, dll), juga militer dan kepolisian. Ada lagi yang merambah di luar birokrasi tapi karena politik, contohnya Dirut BUMN. Terutama yang strategis kayak PLN dan Pertamina. Nah proses politik dan penunjukan politik inilah yang menjadi titik tolak baik/buruknya birokrasi.
Kenapa politik menjadi titik tolak? Saya nggak tau gimana awalnya, kok baik-buruk birokrasi di Indonesia sangat tergantung pada proses politik. Selama era yang katanya sangat demokratis, proses poitik justru membawa birokrasi ke jurang keterpurukan yang lebih dalam.
Terutama setelah rezim Soeharto tumbang, birokrasi seperti laying-layang putus. Kalau Soeharto memilih mana birokrasi yang kuat, dan mana yang dibikin lemah. Dia memutuskan itu dengan segala konsekuensi yang sudah dia perhitungkan. Makanya dia bisa memberikan target yang harus dicapai dalam pembangunan, dan faktanya selalu tercapai (sesuai dengan yang direncanakan, spt pertumbuhan, investasi masuk dan lapangan kerja, dll).
Nah tapi ada dampak yang sangat besar dari pilihan melemahkan birokrasi yang dianggap gak penting oleh Soeharto ini. Kalau dulu lembaga tersebut tidak bisa membesar, karena ruang geraknya dibatasi. Semenjak reformasi, lembaga2 tersebut memetamorfosis sendiri dan semuanya menjadi membesar. Contohnya, adalah beberapa kementerian koordinator dan kementerian negara. Lalu lembaga pemerintah non departemen yang menjelma menjadi badan yang cukup besar dengan fungsi yang tetap.
Kedutaan besar di luar negara-negara berpengaruh utama dulunya diisi para pensiunan apa saja, bisa militer, polisi, dll. Kini mau negara paling penting di dunia pun diisi oleh ‘cecunguk’ yang nggak tau juntrungannya. Malah ada yang malakin WNI yang lagi kerja di luar negeri. MEMALUKAN!
Membesarnya birokrasi yang tidak sesuai fungsi tentunya sangat tidak efisien. Lebih malangnya, inefisiensi ini menular pada birokrasi yang punya fungsi yang besar. Contohnya Departemen PU, Perhubungan, Perindustrian, Perdagangan, Setneg, Bappenas termasuk, dan beberapa yang lain.
Kriteria birokrasi membengkak tidak hanya didasarkan atas rekruitmen pegawai, tetapi juga dari struktur organisasi. Jabatan eselon 1 aja banyaknya minta ampun, eselon 2 bejibun, apalagi eselon 3… banjir. Dan kini ada lagi nama baru jabatan karena politik…. STAF KHUSUS....
Kini birokrasi karir (PNS) adalah rimba belantara. Yang ada dipucuk cuman sedikit sekali yang berkompeten. Saya bukan ngecap, lihat aja perjalanan karir mereka pasti teman2 akan sependapat dengan saya. Kalau saya ada waktu saya akan meneliti ini secara independen. Salah satunya yg menguasai birokrasi karir ini adalah pengelola proyek (pimpinan proyek, bendahara proyek, dst). kalau sekarang PPK (singkatannya saya lupa, yah semacam pimpro itulah). Kita tidak akan nemu biorkrat karir macam Ir. Sutami, Ir. Sedyatmo, dll. Kalaupun nemu biasanya mental dari jauh2 hari. Padahal birokrat karir adalah ujung tombak operasionalisasi bagaimana menyejahterakan masyarakat.
Kalau Pemilu 2009 ini menghasilkan presiden begitu2 aja, yah persiapkan mental bahwa Indonesia juga begitu2 aja.
Yah, setelah 10 tahun di jantung birokrasi pemerintah pusat (saya ngerasain betapa Bappenas sangat powerful dan high profile tapi juga sangat high product pada 2 tahun pertama, selanjutnya semakin loyo, tidak bergairah dan semakin memble) saya merasakan betapa pentingnya Pemilu bagi birokrasi.
Pemilu adalah alat untuk memilih CEO Indonesia alias presiden dalam mengelola sekitar 1000 trilyun rupiah lebih dalam setahun, dengan kontrak 5 tahun. Kalau angka itu APBN 2009, maka angka dalam periode 5 tahun kedepan akan terus meningkat. Tujuan utamanya menyejahterakan rakyat secara keseluruhan, bukan sebagian. Kalau presiden mengangkat menteri2 tetapi tidak ngerti mengelola anggaran, atau tidak mau tau, ya wassalam. Kalau yg gak mau tau biasanya cuman mementingkan setoran bersih.... Kalau anggaran di daerah, kan bisa memberikan koridor melalui Menkeu dan Mendagri agar uang APBD2 itu tidak menjadi ‘bancakan’ pejabat2 daerah. Koridor kayak apa? Ok saya kasih contoh satu, PEMBATASAN MOBIL DINAS!!!!
Lalu, kalu menteri2 itu tidak kompeten, pasti akan mengangkat pejabat2 karir yg tidak beres juntrungannya....
Birokrasi, bukan hanya PNS doing tetapi juga kepada keseluruhan penyelenggara Negara. Kalau PNS adalah birokrat karir, sedangkan birokrasi disini termasuk birokrat dengan proses politik (presiden, gubernur, bupati/walikota, DPR, DPRD, dan DPD), political appointee (Menteri, Kepala Badan, MA, BPK, Komisi2, BI, dll), juga militer dan kepolisian. Ada lagi yang merambah di luar birokrasi tapi karena politik, contohnya Dirut BUMN. Terutama yang strategis kayak PLN dan Pertamina. Nah proses politik dan penunjukan politik inilah yang menjadi titik tolak baik/buruknya birokrasi.
Kenapa politik menjadi titik tolak? Saya nggak tau gimana awalnya, kok baik-buruk birokrasi di Indonesia sangat tergantung pada proses politik. Selama era yang katanya sangat demokratis, proses poitik justru membawa birokrasi ke jurang keterpurukan yang lebih dalam.
Terutama setelah rezim Soeharto tumbang, birokrasi seperti laying-layang putus. Kalau Soeharto memilih mana birokrasi yang kuat, dan mana yang dibikin lemah. Dia memutuskan itu dengan segala konsekuensi yang sudah dia perhitungkan. Makanya dia bisa memberikan target yang harus dicapai dalam pembangunan, dan faktanya selalu tercapai (sesuai dengan yang direncanakan, spt pertumbuhan, investasi masuk dan lapangan kerja, dll).
Nah tapi ada dampak yang sangat besar dari pilihan melemahkan birokrasi yang dianggap gak penting oleh Soeharto ini. Kalau dulu lembaga tersebut tidak bisa membesar, karena ruang geraknya dibatasi. Semenjak reformasi, lembaga2 tersebut memetamorfosis sendiri dan semuanya menjadi membesar. Contohnya, adalah beberapa kementerian koordinator dan kementerian negara. Lalu lembaga pemerintah non departemen yang menjelma menjadi badan yang cukup besar dengan fungsi yang tetap.
Kedutaan besar di luar negara-negara berpengaruh utama dulunya diisi para pensiunan apa saja, bisa militer, polisi, dll. Kini mau negara paling penting di dunia pun diisi oleh ‘cecunguk’ yang nggak tau juntrungannya. Malah ada yang malakin WNI yang lagi kerja di luar negeri. MEMALUKAN!
Membesarnya birokrasi yang tidak sesuai fungsi tentunya sangat tidak efisien. Lebih malangnya, inefisiensi ini menular pada birokrasi yang punya fungsi yang besar. Contohnya Departemen PU, Perhubungan, Perindustrian, Perdagangan, Setneg, Bappenas termasuk, dan beberapa yang lain.
Kriteria birokrasi membengkak tidak hanya didasarkan atas rekruitmen pegawai, tetapi juga dari struktur organisasi. Jabatan eselon 1 aja banyaknya minta ampun, eselon 2 bejibun, apalagi eselon 3… banjir. Dan kini ada lagi nama baru jabatan karena politik…. STAF KHUSUS....
Kini birokrasi karir (PNS) adalah rimba belantara. Yang ada dipucuk cuman sedikit sekali yang berkompeten. Saya bukan ngecap, lihat aja perjalanan karir mereka pasti teman2 akan sependapat dengan saya. Kalau saya ada waktu saya akan meneliti ini secara independen. Salah satunya yg menguasai birokrasi karir ini adalah pengelola proyek (pimpinan proyek, bendahara proyek, dst). kalau sekarang PPK (singkatannya saya lupa, yah semacam pimpro itulah). Kita tidak akan nemu biorkrat karir macam Ir. Sutami, Ir. Sedyatmo, dll. Kalaupun nemu biasanya mental dari jauh2 hari. Padahal birokrat karir adalah ujung tombak operasionalisasi bagaimana menyejahterakan masyarakat.
Kalau Pemilu 2009 ini menghasilkan presiden begitu2 aja, yah persiapkan mental bahwa Indonesia juga begitu2 aja.
Jumat, Maret 20, 2009
Pejantan Tangguh
Saya kemarin disuruh menghadiri workshop yang gimana yaaa, bikin males. Udah bahasa Inggris, abis gitu musti bikin laporan (ini yang sebenarnya saya hindari). Yah namanya birokrat, musti nurut atasan walaupun itu akan membuat (sedikit/banyak) bodoh. Yang jelas harus berkorban ongkos taksi pulang-pergi dari kantong …. saya sendiri. Saya gak bisa naik ojek karena agak gengsi juga kalau ke tempat pertemuan model Hotel Borobudur begitu, karena front officers mereka sangat2 diskriminatif terhadap tampilan awal. Alih2 bisa langsung ke lobi, paling2 harus turun di depan gerbang. Pengalaman saya di Hotel Harris Jl Saharjo Jakarta, saya malah disuruh turun di jalan raya, karena ojek dilarang masuk. Tau kalo Hotel Borobudur….
Workshop-nya berjudul ‘South-South Technical Cooperation: Indonesian Experiences’. Kerena kan….
Karena saya datangnya telat (banget! Acara mulai jam 09.00 pas, saya nyampe sekitar 10.45), walhasil saya dapat tempat duduk di muka di samping pak kusir ….. (halah…, lha kok malah ngelantur). Sambil memperhatikan si cewek Jepang bicara kerjasama selatan2 dengan aksen yang bagus, lalu ditimpali oleh dubes Palestina dengan inggris gaya arab-nya, saya mencoba menggali sesuatu di acara tersebut.
Dan berkah itu datang justru karena ‘kedudukan’, gak lama setelah saya menikmati kursi bagian depan itu datanglah Pak Djafar Assegaf, seorang redaktur senior Metro TV yang pernah jadi dubes di Vietnam pada tahun 1993-1997 lalu. Beliau memilih duduk di samping saya sambil menunggu jadwal beliau tampil di sesi sorenya.
Dengan ramah dia menyalami saya dan perbincangan hangat pun terjadi. Saya cerita birokrasi, dan dia juga cerita pengalaman2 dia sambil terus menyemangati saya khas orang2 jaman pergerakan kemerdekaan.
Bicara birokrasi, dia lalu menceritakan sebuah kisah (menurut dia nyata dan terjadi di sebuah desa miskin di Jawa Tengah).
Pada waktu itu, masih Orde Baru, ada seorang kyai pesantren yang mempunyai seekor kambing jantan. Si kambing ini, katakanlah si Michael, merupakan pejantan tangguh yang tersohor kemana-mana. Si Michael ini bisa mengawini betina-betina sampai 30 kali dalam sehari. Wow, benar2 kuat dan ini membuat peternakan si kyai menjadi sangat besar. Si kyai membantu peternak2 lain dengan membawa Michael untuk dikawinkan dengan betina2 milik peternak di seantero Jawa Tengah. Walhasil peternakan kambing di Jawa Tengah maju pesat karena si Michael ini.
Berita ini nyampai juga ke Departemen Pertanian. Lalu seorang pejabatnya memerintahkan untuk membeli si Michael dengan harga berapapun untuk dikembangkan ke seluruh nusantara. Maka berangkatlah pimpro beserta jajarannya untuk melakukan negosiasi pembelian si Michael, pejantan tangguh.
Bagaimana sikap sang kyai atas penawaran ini? Pak Kyai dengan enteng melepaskan si Michel. Lumayan, uangnya bisa dipake bangun gedung madrasah yang sedang dia bangun. Pak Kyai pikir, dengan uang penjualan Michael ini dia bisa mencerdaskan anak2 desa di tempat dia tinggal sekaligus berbekal agama yang kuat. Si Michael pun berganti ‘instansi’, dari seorang santri dan kini menjadi bagian dari sebuah departemen.
Setelah pindah ‘instansi’ bagaimana performa si Michael? Sebulan pertama masih oke. Bulan kedua kemampuan Michael mulai menurun, sekitar 20 kali kawin sehari. Bulan ketiga, keempat, dan kelima terus menurun. Bulan keenam, Michael sudah sangat malas2an. Badannya gemuk, kawin cuman sekali-dua kali sehari. Michael lebih banyak tidur.
Melihat keadaan itu, si pejabat marah. Padahal makanan atau treatment untuk badan Michael udah sesuai dengan petunjuk sang kyai. Lalu dibawalah Michael ke pesantren si kyai untuk komplain.
Pak Kyai tersenyum melihat kehadiran si Michael yang diiringi para pejabat yang merasa gagal mengembangkan si Michael. Didengarnya semua komplain. Lalu dia minta waktu seminggu untuk menganalisis dan mengevaluasi kenapa si Michael performanya jauh menurun.
Seminggu kemudian, sang kyai sudah punya jawabannya. Begitu rombongan dari departemen datang, dia menjelaskan dengan satu kalimat singkat.....
”Si Michael sudah jadi pegawai negeri....”
Workshop-nya berjudul ‘South-South Technical Cooperation: Indonesian Experiences’. Kerena kan….
Karena saya datangnya telat (banget! Acara mulai jam 09.00 pas, saya nyampe sekitar 10.45), walhasil saya dapat tempat duduk di muka di samping pak kusir ….. (halah…, lha kok malah ngelantur). Sambil memperhatikan si cewek Jepang bicara kerjasama selatan2 dengan aksen yang bagus, lalu ditimpali oleh dubes Palestina dengan inggris gaya arab-nya, saya mencoba menggali sesuatu di acara tersebut.
Dan berkah itu datang justru karena ‘kedudukan’, gak lama setelah saya menikmati kursi bagian depan itu datanglah Pak Djafar Assegaf, seorang redaktur senior Metro TV yang pernah jadi dubes di Vietnam pada tahun 1993-1997 lalu. Beliau memilih duduk di samping saya sambil menunggu jadwal beliau tampil di sesi sorenya.
Dengan ramah dia menyalami saya dan perbincangan hangat pun terjadi. Saya cerita birokrasi, dan dia juga cerita pengalaman2 dia sambil terus menyemangati saya khas orang2 jaman pergerakan kemerdekaan.
Bicara birokrasi, dia lalu menceritakan sebuah kisah (menurut dia nyata dan terjadi di sebuah desa miskin di Jawa Tengah).
Pada waktu itu, masih Orde Baru, ada seorang kyai pesantren yang mempunyai seekor kambing jantan. Si kambing ini, katakanlah si Michael, merupakan pejantan tangguh yang tersohor kemana-mana. Si Michael ini bisa mengawini betina-betina sampai 30 kali dalam sehari. Wow, benar2 kuat dan ini membuat peternakan si kyai menjadi sangat besar. Si kyai membantu peternak2 lain dengan membawa Michael untuk dikawinkan dengan betina2 milik peternak di seantero Jawa Tengah. Walhasil peternakan kambing di Jawa Tengah maju pesat karena si Michael ini.
Berita ini nyampai juga ke Departemen Pertanian. Lalu seorang pejabatnya memerintahkan untuk membeli si Michael dengan harga berapapun untuk dikembangkan ke seluruh nusantara. Maka berangkatlah pimpro beserta jajarannya untuk melakukan negosiasi pembelian si Michael, pejantan tangguh.
Bagaimana sikap sang kyai atas penawaran ini? Pak Kyai dengan enteng melepaskan si Michel. Lumayan, uangnya bisa dipake bangun gedung madrasah yang sedang dia bangun. Pak Kyai pikir, dengan uang penjualan Michael ini dia bisa mencerdaskan anak2 desa di tempat dia tinggal sekaligus berbekal agama yang kuat. Si Michael pun berganti ‘instansi’, dari seorang santri dan kini menjadi bagian dari sebuah departemen.
Setelah pindah ‘instansi’ bagaimana performa si Michael? Sebulan pertama masih oke. Bulan kedua kemampuan Michael mulai menurun, sekitar 20 kali kawin sehari. Bulan ketiga, keempat, dan kelima terus menurun. Bulan keenam, Michael sudah sangat malas2an. Badannya gemuk, kawin cuman sekali-dua kali sehari. Michael lebih banyak tidur.
Melihat keadaan itu, si pejabat marah. Padahal makanan atau treatment untuk badan Michael udah sesuai dengan petunjuk sang kyai. Lalu dibawalah Michael ke pesantren si kyai untuk komplain.
Pak Kyai tersenyum melihat kehadiran si Michael yang diiringi para pejabat yang merasa gagal mengembangkan si Michael. Didengarnya semua komplain. Lalu dia minta waktu seminggu untuk menganalisis dan mengevaluasi kenapa si Michael performanya jauh menurun.
Seminggu kemudian, sang kyai sudah punya jawabannya. Begitu rombongan dari departemen datang, dia menjelaskan dengan satu kalimat singkat.....
”Si Michael sudah jadi pegawai negeri....”
Kamis, Maret 05, 2009
Lemparan Lambung Birokrasi
Ini tulisan seorang senior saya di kantor, Mas Arifin namanya. Dia salah seorang yang ikutan nongkrong di Lesehan Taman Suropati. Cukup menggelitik dan sangat tipis batasan antara fiktif dan kenyataan dari cerita ini. Ini tulisan lengkapnya.
Selama berinteraksi dengan birokrasi, saya sering menemui kepiawaian birokrat dalam melakukan lemparan lambung. Lemparan ini jelas arahnya keatas.
Saya coba memikirkan kenapa birokrat punya kepiawaian seperti itu. Barangkali jawabannya adalah:
1. (Kebanyakan) birokrat tidak berani atau tidak mau atau tidak suka bertanggung jawab.
2. (Kebanyakan) birokrat tidak mau repot.
3. Memang substansi masalah bukan wewenangnya.
Untuk memperjelas maksud saya mengenai lemparan lambung birokrasi, dibawah ini ada beberapa contoh.
1. Seorang staf yang ditanya mengenai pekerjaannya, misal:"Pak, ini ada kesalahan pembuatan kolom penerimaan". Dia sering menjawab "Baik pak, nanti saya konsultasikan dengan atasan saya pak Kepala Seksi".
2. Seorang Kepala Seksi ditanya: "Bagaimana proses perijinan perusahaan saya di Seksi Bapak?" . Sering dia akan menjawab:"Setahu saya sedang diproses Bu. Akan saya konsultasikan dengan pak Kepala Bagian saya".
3. Seorang Kepala Bagian ditanya: "Bu, bagaimana progress pembahasan draft anu di departemen anu?" jawabnya:"Ya. saya sudah ikut rapat dan sekarang menunggu keputusan pak Direktur"
4. Seorang Direktur dikomplain:"Pak, kok kebijakan ini diambil?" beliau akan berkilah:"O...itu arahan pak Dirjen/ Deputi"....
5. Seorang Dirjen/Deputi dikomplain:"Pak Dirjen, saya sudah mengikuti program Bapak tapi belum diikutsertakan dalam pameran internasional itu..." Bapak Dirjen akan menjawab:"Sabar pak...yang sekarang sudah sesuai arahan Bapak Menteri..."
Hal yang berlawanan saya lihat jika pertanyaan adalah berupa "Opportunity". Maka birokrat akan sangat kelihatan bertanggung jawab.
Contohnya bila ada telpon dari mitra kerja:" Pak, siapa diantara staf Bapak yang akan ikut serta dalam kunjungan ke Madrid?" sang birokrat dengan berwibawa akan menjawab:" O...yang itu ya...saya kira staf saya belum capable enough untuk ikut kesana. Saya sendiri yang akan berangkat..."
salam,
nam
* * *
Selama berinteraksi dengan birokrasi, saya sering menemui kepiawaian birokrat dalam melakukan lemparan lambung. Lemparan ini jelas arahnya keatas.
Saya coba memikirkan kenapa birokrat punya kepiawaian seperti itu. Barangkali jawabannya adalah:
1. (Kebanyakan) birokrat tidak berani atau tidak mau atau tidak suka bertanggung jawab.
2. (Kebanyakan) birokrat tidak mau repot.
3. Memang substansi masalah bukan wewenangnya.
Untuk memperjelas maksud saya mengenai lemparan lambung birokrasi, dibawah ini ada beberapa contoh.
1. Seorang staf yang ditanya mengenai pekerjaannya, misal:"Pak, ini ada kesalahan pembuatan kolom penerimaan". Dia sering menjawab "Baik pak, nanti saya konsultasikan dengan atasan saya pak Kepala Seksi".
2. Seorang Kepala Seksi ditanya: "Bagaimana proses perijinan perusahaan saya di Seksi Bapak?" . Sering dia akan menjawab:"Setahu saya sedang diproses Bu. Akan saya konsultasikan dengan pak Kepala Bagian saya".
3. Seorang Kepala Bagian ditanya: "Bu, bagaimana progress pembahasan draft anu di departemen anu?" jawabnya:"Ya. saya sudah ikut rapat dan sekarang menunggu keputusan pak Direktur"
4. Seorang Direktur dikomplain:"Pak, kok kebijakan ini diambil?" beliau akan berkilah:"O...itu arahan pak Dirjen/ Deputi"....
5. Seorang Dirjen/Deputi dikomplain:"Pak Dirjen, saya sudah mengikuti program Bapak tapi belum diikutsertakan dalam pameran internasional itu..." Bapak Dirjen akan menjawab:"Sabar pak...yang sekarang sudah sesuai arahan Bapak Menteri..."
Hal yang berlawanan saya lihat jika pertanyaan adalah berupa "Opportunity". Maka birokrat akan sangat kelihatan bertanggung jawab.
Contohnya bila ada telpon dari mitra kerja:" Pak, siapa diantara staf Bapak yang akan ikut serta dalam kunjungan ke Madrid?" sang birokrat dengan berwibawa akan menjawab:" O...yang itu ya...saya kira staf saya belum capable enough untuk ikut kesana. Saya sendiri yang akan berangkat..."
salam,
nam
Jumat, Februari 13, 2009
Sepatu Kuda SBY
Insiden matinya mikropon bapak presiden SBY di Pertamina benar2 menggelisahkan. Sampai2 SBY mengibaratkan dengan sepatu kuda.
Ini cuplikannya dari Detik.com:
"Ketika akan menghadapi sebuah pertempuran, ada kuda yang sepatunya tidak terpasang dengan baik dan kuda itu digunakan komandan perang," katanya.
"Ketika di medan perang, sepatu kuda itu terlepas. Sehingga kaki kuda lemah. Kuda itu jatuh, sehingga otomatis komandan terjatuh dan tidak dapat memenangkan peperangan," ujarnya.
Lalu pertanyaannya, kenapa kuda sang komandan sampai jatuh?
Prajurit 1: "karena sang komandan tidak pake sepatu kuda.....?!#$%
Prajurit 2: "karena kuda komandan laki2 semantara kuda lawannya perempuan....
Prajurit 3: "karena sang komandan salah pegang pelana kuda......
Hue he he....
Selama 10 tahun di birokrasi saya sangat tahu gimana perasaan orang2 level bawah jika sang big boss marah. Masih mending jika menteri marahnya sama eselon 1, atau paling tidak eselon 2. Eselon 1 marah sama eselon 2 atau eselon 3. Eselon 2 marah sama eselon 3 atau staf.
Nah staf mau marah sama siapa? Nah masih mending, karena ada operator. Lalu operator masak masih bisa marah sama pramubhakti atau cleaning service.
Kalau level marahnya agak meloncat, misalnya eselon 1 marah sama eselon 3 atau staf. Masalahnya sekitar pekerjaan. Pasti yang dimarahin bisa nggak tidur berminggu2 memikirkan karirnya. Tapi itu jelas bukan saya.... he he he.
Atau eselon 1 atau 2 marah sama pramubhakti, nah ini biasanya soal yang remeh2. Bisa bikin kopi terlalu manis, atau pahit. Tapi marah tersebut akan membekas di hati sang pramubhakti. Walaupun sang pejabat udah lupa, sang pramubhakti tersebut akan terus berdoa sepanjang malam agar kedudukannya selamat.
Nah, coba bayangin aja presiden marah sama pramubhakti. Tapi gak usah dibayangin, karena udah ada kejadiannya.
Mimpi apa pramubhakti yang menyiapkan ruang rapat di Pertamina itu sehingga mikropon presiden mendadak unjuk rasa gak mau bunyi. Dan presiden marah.
Padahal sebelum acara, sang pramubhakti sudah membayangkan bisa melihat presiden dari dekat, atau bahkan bersalaman. Jika acara sukses, dia akan cerita ke seluruh handai tolannya bahwa dia yang menyiapkan rapat tersebut dan membikinkan minuman buat sang presiden.
Tapi apa lacur, mimpi itu berubah 180 derajat. Persiapan yang matang oleh manusia yang 99 persen tidak mampu menahan kuasa tuhan yang 1 persen. Mikropon mati.
Lha presiden kok sayangnya marah, bukan menganggap itu main2. Padahal sehari sebelumnya dia semalaman sama Tukul Arwana, lha kok selera humornya hilang.
Kini, operator ruang rapat dan para pramubhakti di Pertamina yang terlibat dalam persiapan acara rapat dengan presiden pasti sampai saat ini matanya masih terjaga. Mungkin ada yang shalat tahajud sampai subuh.
Saya sih gak begitu membayangkan nasib para direktur pertamina atau para komandan paspampres. Gemeter sih gemeter, tapi pasti gak segemerutuk para pramubhakti tersebut.
Mudah2an tidak ada yang sakit keras karena kejadian itu. Dan doa orang teraniaya itu makbul, mudah2an tidak ada doa jelek untuk SBY dari mereka.
Dan presiden SBY pun bercerita sepatu kuda.
Lalu gimana jika disitu ada Mumtazer Al Zaidi (sang pelempar sepatu ke muka Bush)?
Kalau Bush aja masih tertawa sambil teriak "Alhamdulillah, gak kena!!", kenapa SBY tidak?
Selamat hari valentine, karena saya NU tanggalnya maju sehari. Kalau Muhammadiyah mungkin baru besok velentine-nya.
Untuk Indonesiaku tersayang..., keep smiling..........
Ini cuplikannya dari Detik.com:
"Ketika akan menghadapi sebuah pertempuran, ada kuda yang sepatunya tidak terpasang dengan baik dan kuda itu digunakan komandan perang," katanya.
"Ketika di medan perang, sepatu kuda itu terlepas. Sehingga kaki kuda lemah. Kuda itu jatuh, sehingga otomatis komandan terjatuh dan tidak dapat memenangkan peperangan," ujarnya.
Lalu pertanyaannya, kenapa kuda sang komandan sampai jatuh?
Prajurit 1: "karena sang komandan tidak pake sepatu kuda.....?!#$%
Prajurit 2: "karena kuda komandan laki2 semantara kuda lawannya perempuan....
Prajurit 3: "karena sang komandan salah pegang pelana kuda......
Hue he he....
* * *
Selama 10 tahun di birokrasi saya sangat tahu gimana perasaan orang2 level bawah jika sang big boss marah. Masih mending jika menteri marahnya sama eselon 1, atau paling tidak eselon 2. Eselon 1 marah sama eselon 2 atau eselon 3. Eselon 2 marah sama eselon 3 atau staf.
Nah staf mau marah sama siapa? Nah masih mending, karena ada operator. Lalu operator masak masih bisa marah sama pramubhakti atau cleaning service.
Kalau level marahnya agak meloncat, misalnya eselon 1 marah sama eselon 3 atau staf. Masalahnya sekitar pekerjaan. Pasti yang dimarahin bisa nggak tidur berminggu2 memikirkan karirnya. Tapi itu jelas bukan saya.... he he he.
Atau eselon 1 atau 2 marah sama pramubhakti, nah ini biasanya soal yang remeh2. Bisa bikin kopi terlalu manis, atau pahit. Tapi marah tersebut akan membekas di hati sang pramubhakti. Walaupun sang pejabat udah lupa, sang pramubhakti tersebut akan terus berdoa sepanjang malam agar kedudukannya selamat.
Nah, coba bayangin aja presiden marah sama pramubhakti. Tapi gak usah dibayangin, karena udah ada kejadiannya.
Mimpi apa pramubhakti yang menyiapkan ruang rapat di Pertamina itu sehingga mikropon presiden mendadak unjuk rasa gak mau bunyi. Dan presiden marah.
Padahal sebelum acara, sang pramubhakti sudah membayangkan bisa melihat presiden dari dekat, atau bahkan bersalaman. Jika acara sukses, dia akan cerita ke seluruh handai tolannya bahwa dia yang menyiapkan rapat tersebut dan membikinkan minuman buat sang presiden.
Tapi apa lacur, mimpi itu berubah 180 derajat. Persiapan yang matang oleh manusia yang 99 persen tidak mampu menahan kuasa tuhan yang 1 persen. Mikropon mati.
Lha presiden kok sayangnya marah, bukan menganggap itu main2. Padahal sehari sebelumnya dia semalaman sama Tukul Arwana, lha kok selera humornya hilang.
Kini, operator ruang rapat dan para pramubhakti di Pertamina yang terlibat dalam persiapan acara rapat dengan presiden pasti sampai saat ini matanya masih terjaga. Mungkin ada yang shalat tahajud sampai subuh.
Saya sih gak begitu membayangkan nasib para direktur pertamina atau para komandan paspampres. Gemeter sih gemeter, tapi pasti gak segemerutuk para pramubhakti tersebut.
Mudah2an tidak ada yang sakit keras karena kejadian itu. Dan doa orang teraniaya itu makbul, mudah2an tidak ada doa jelek untuk SBY dari mereka.
Dan presiden SBY pun bercerita sepatu kuda.
Lalu gimana jika disitu ada Mumtazer Al Zaidi (sang pelempar sepatu ke muka Bush)?
Kalau Bush aja masih tertawa sambil teriak "Alhamdulillah, gak kena!!", kenapa SBY tidak?
* * *
Selamat hari valentine, karena saya NU tanggalnya maju sehari. Kalau Muhammadiyah mungkin baru besok velentine-nya.
Untuk Indonesiaku tersayang..., keep smiling..........
Selasa, Februari 10, 2009
Permata Hati Lebih Penting dari Segalanya
Beberapa hari ke belakang adalah hari yang sangat berat dalam hidupku.
Hari ini adalah kembalinya semangat baru setelah melihat cahaya cemerlang yang muncul lagi dari sang permata hatiku.
Seminggu ini aku sangat nggak perhatian sama kantor. Sesempatnya aja. Status di fb-ku sangat standard.
"Udin plans to backhome earlier"
"Udin juat arrived at his office" padahal udah jam 2 sore.
"Udin has no spirit to work"
Si Rofik, teman lama yang lagi S3 di Australi yang paling sering komen sama statusku. Dia komplain gimana negara ini akan beres kalau staf Bappenas kerjanya kayak aku semua.
Hi hi hi, ini lucunya ada 2. Pertama, Rofik gak tau kalau pikiranku ke rumah itu karena 'permataku' yang sakit. Kedua, dia juga belum tau kalau Bappenas itu sekarang udah gak penting2 amat.
Aku membayangkan, jika ini terjadi 10 tahun yang lalu saat Bappenas masih full budget power. Saat itu saya kebetulan juga dipercaya oleh Deputi Pendanaan (yang sangat2 powerful) untuk mengerjakan sesuatu yg sangat penting. Bahkan aku sendiri yang mengantarkan hasil kerjaku ke rumah Menteri Bappenas yang sekarang udah jadi Gubernur BI.
Lalu, pas sibuk2 begitu anakku sakit. Apa yang akan aku perbuat? Pasti sulit, walaupun akhirnya saya akan memilih 'bintang surgaku'.
Yah, aku gak sehebat tokoh2 di film hollywood yang menghadapi kasus seperti itu dimana mereka bisa menyelamatkan keluarga tapi juga tidak hilang edealismenya. Biarlah urusan penting itu diurus oleh orang yang memang penting.
Anak adalah belahan jiwa. Itu terasa sekali, terutama terhadap putri pertamaku. Walaupun dia seorang anak pertama, aku nggak mengharap dia akan menjadi anak ideologis. Aku nggak ingin dia akan mengikuti jejakku dalam berjuang, apalagi menjadi seorang birokrat. Sungguh aku tak ingin. Aku nggak akan mencontoh bagaimana Soekarno membentuk Megawati, Soeharto mengedepankan Tutut, Gus Dur mendorong Yenny, dll. Biarlah dia memilih beberapa hobi yang ditekuni saat ini, menyanyi, mencipta lagu, menjadi presenter, designer, dll. Atau kalau lebih dekat dengan kultur-ku, dia akan menjadi kepala sekolah di salah satu sekolah milik yayasan keluargaku dengan nuansa internasional. Tapi ... ah, terlalu ngelantur.
Sabrina, nama anak pertamaku itu. Dia hadir di saat aku dan istri masih dalam keadaan nol besar. Tidak punya apa2, walaupun sampai saat inipun juga belum punya apa2 (setidaknya rumah ataupun mobil pribadi, setelah berkarir 10 tahun menjadi birokrat). Tapi kehadirannya membuatku jadi 'berpunya'. Minimal punya anak, dan sangat cantik kurasa. Dia mengiringiku dalam hari-hari yang melelahkan sebagai seorang birokrat gaul dengan cerianya. Dia sangat bangga akan ayahnya. Menurutnya ayahnya paling hebat, pinter, dan sangat kaya. Dia selalu ngerasa bahwa ayahnya bisa membelikannya apapun. Dan memang, sampai saat ini aku masih bisa meluluskan semua permintaannya. Atau setidaknya menunda, seperti yang terakhir ini, dia minta beli piano. Hebatnya, dia nggak pernah minta sesuatu yang ayahnya nggak bisa menjangkau. Minta mobil, nggak pernah. Rumah, juga nggak pernah. Untuk yang ini aku diselamatkan justru oleh anakku, karena kakeknya maksa memberi Sabrina....
Diantara sedikit peristiwa yang membuatku menitikkan air mata, salah satunya adalah di dua kelahiran anak2ku. Kelahiran Sabrina terutama, air mataku lebih banyak mengalir karena mengingatkanku pada ibuku juga. Dan setetes terakhir, adalah ketika mendapati Sabrina meyakinkanku bahwa dia nggak apa2, padahal panas badannya lebih dari 39,8 derajat.
Berjuang sebagai birokrat tidak seperti perjuangan angkatan 45 dan sebelumnya. Jadi, kalau hanya sekedar menyusun sebuah rekomendasi tentang kebijakan pengeluaran pembangunan yang masih harus diperdebatkan dengan Depkeu dan DPR, aku pikir itu nggak seharusnya terlalu heroik, seakan-akan sedang mengangkat senjata melawan penjajah.
Aku, akan tetap memilih anakku, karena aku adalah birokrat demonstran.
Hari ini adalah kembalinya semangat baru setelah melihat cahaya cemerlang yang muncul lagi dari sang permata hatiku.
Seminggu ini aku sangat nggak perhatian sama kantor. Sesempatnya aja. Status di fb-ku sangat standard.
"Udin plans to backhome earlier"
"Udin juat arrived at his office" padahal udah jam 2 sore.
"Udin has no spirit to work"
Si Rofik, teman lama yang lagi S3 di Australi yang paling sering komen sama statusku. Dia komplain gimana negara ini akan beres kalau staf Bappenas kerjanya kayak aku semua.
Hi hi hi, ini lucunya ada 2. Pertama, Rofik gak tau kalau pikiranku ke rumah itu karena 'permataku' yang sakit. Kedua, dia juga belum tau kalau Bappenas itu sekarang udah gak penting2 amat.
Aku membayangkan, jika ini terjadi 10 tahun yang lalu saat Bappenas masih full budget power. Saat itu saya kebetulan juga dipercaya oleh Deputi Pendanaan (yang sangat2 powerful) untuk mengerjakan sesuatu yg sangat penting. Bahkan aku sendiri yang mengantarkan hasil kerjaku ke rumah Menteri Bappenas yang sekarang udah jadi Gubernur BI.
Lalu, pas sibuk2 begitu anakku sakit. Apa yang akan aku perbuat? Pasti sulit, walaupun akhirnya saya akan memilih 'bintang surgaku'.
Yah, aku gak sehebat tokoh2 di film hollywood yang menghadapi kasus seperti itu dimana mereka bisa menyelamatkan keluarga tapi juga tidak hilang edealismenya. Biarlah urusan penting itu diurus oleh orang yang memang penting.
Anak adalah belahan jiwa. Itu terasa sekali, terutama terhadap putri pertamaku. Walaupun dia seorang anak pertama, aku nggak mengharap dia akan menjadi anak ideologis. Aku nggak ingin dia akan mengikuti jejakku dalam berjuang, apalagi menjadi seorang birokrat. Sungguh aku tak ingin. Aku nggak akan mencontoh bagaimana Soekarno membentuk Megawati, Soeharto mengedepankan Tutut, Gus Dur mendorong Yenny, dll. Biarlah dia memilih beberapa hobi yang ditekuni saat ini, menyanyi, mencipta lagu, menjadi presenter, designer, dll. Atau kalau lebih dekat dengan kultur-ku, dia akan menjadi kepala sekolah di salah satu sekolah milik yayasan keluargaku dengan nuansa internasional. Tapi ... ah, terlalu ngelantur.
Sabrina, nama anak pertamaku itu. Dia hadir di saat aku dan istri masih dalam keadaan nol besar. Tidak punya apa2, walaupun sampai saat inipun juga belum punya apa2 (setidaknya rumah ataupun mobil pribadi, setelah berkarir 10 tahun menjadi birokrat). Tapi kehadirannya membuatku jadi 'berpunya'. Minimal punya anak, dan sangat cantik kurasa. Dia mengiringiku dalam hari-hari yang melelahkan sebagai seorang birokrat gaul dengan cerianya. Dia sangat bangga akan ayahnya. Menurutnya ayahnya paling hebat, pinter, dan sangat kaya. Dia selalu ngerasa bahwa ayahnya bisa membelikannya apapun. Dan memang, sampai saat ini aku masih bisa meluluskan semua permintaannya. Atau setidaknya menunda, seperti yang terakhir ini, dia minta beli piano. Hebatnya, dia nggak pernah minta sesuatu yang ayahnya nggak bisa menjangkau. Minta mobil, nggak pernah. Rumah, juga nggak pernah. Untuk yang ini aku diselamatkan justru oleh anakku, karena kakeknya maksa memberi Sabrina....
Diantara sedikit peristiwa yang membuatku menitikkan air mata, salah satunya adalah di dua kelahiran anak2ku. Kelahiran Sabrina terutama, air mataku lebih banyak mengalir karena mengingatkanku pada ibuku juga. Dan setetes terakhir, adalah ketika mendapati Sabrina meyakinkanku bahwa dia nggak apa2, padahal panas badannya lebih dari 39,8 derajat.
Berjuang sebagai birokrat tidak seperti perjuangan angkatan 45 dan sebelumnya. Jadi, kalau hanya sekedar menyusun sebuah rekomendasi tentang kebijakan pengeluaran pembangunan yang masih harus diperdebatkan dengan Depkeu dan DPR, aku pikir itu nggak seharusnya terlalu heroik, seakan-akan sedang mengangkat senjata melawan penjajah.
Aku, akan tetap memilih anakku, karena aku adalah birokrat demonstran.
Rabu, Desember 31, 2008
Inilah Birokrat Tahun 2008
Saya punya nominasi untuk dijadikan birokrat tahun 2008. Nominasi ini ada dalam 2 sisi, positif dan negatif. Kedua sisi ini sama ngetopnya, tapi kayaknya lebih ngetop sisi negatifnya deh. Tapi coba kita simak sedikit.
Dari segi positif:
1. Siti Fadilah Supari: menurut saya menteri ini cukup sukses baik secara performance maupun kehumasan. Semua prestasi dia menjadi diketahui orang. Saya bolak-balik muter ke daerah, yang dirasakan ada peningkatan karena adanya pemerintah pusat adalah di bidang kesehatan. Ada yang sedikit maupun banyak. Satu lagi yang saya anggap sebagai prestasi adalah masalah NAMRU, 2 jempol untuk beliau.
2. Agus Chondro: mantan birokrat legislatif yang tobat lalu membuka 'borok' selebar-lebarnya. Ini orang kalau tidak tobat wah nggak kebayang gimana tertutup rapatnya borok akibat kong-kalikong pejabat BI dan birokrat legislatif. Mungkin akan lama terbongkarnya.
3. Joko Widodo: Walikota Solo yang cukup berhasil dalam bidang pelayanan publik. Dia juga aktif menata kota tetapi sangat memanusiakan warganya. Tidak ada penggusuran dan pemaksaan. Salah satu prestasi yang cukup membanggakan adalah memindahkan pasar dengan damai dan sejahtera. Coba di tempat lain. Gusur!
4. Untung Wiyono: Bupati Sragen ini adalah contoh nyata dalam perbaikan pelayanan publik. Yang paling kelihatan adalah dalam pengurusan surat2 penting macam KTP, akta kelahiran, pertanahan, dan urusan2 yang langsung berhadapan dengan publik adalah prestasi hebat sang bupati ini. Coba kita ngurus KTP di Sragen, sepertinya ada di luar negeri. Serba komputer, dan jauh dari praktik2 korupsi.
5. I Gede Winasa: Bupati Jembrana ini juga punya prestasi dalam pelayanan publik, lebih spesifik lagi adalah pelayanan kebutuhan dasar (air minum) dan infrastruktur lainnya. Jembrana adalah daerah yang sebenarnya susah air, tapi di tangan bupati ini rakyat Jembrana mungkin sudah lupa gimana rasanya kekurangan air bersih.
Saya susah menambah list-nya. Karena terus terang, kalau untuk pejabat2 publik (baca: menteri) saat ini performance-nya jauh dari memuaskan. Bahkan saya berpikir, jangan2 mereka cuman menjalankan business as usual. Kalau mau berhasil, mustinya dapat menggerakkan birokrasi ke arah yang semakin bagus. Lha ini, yang terjadi malah sebaliknya. Akibatnya, APBN sebagai amunisi utama birokrasi untuk mendorong perbaikan di berbagai bidang jadinya tidak lebih sebagai pemborosan. Lihat saja 3 bulan terakhir ini, semua rapat pindah ke hotel. Susah nyari hotel kosong, semua dipake rapat oleh birokrasi. Tidak hanya di Jakarta, tapi hampir di seluruh ibukota provinsi terjadi hal seperti itu.
Kali ini yang negatif, sedikit aja deh list-nya.
1. Urip Tri Gunawan and his (Attorney General) gank. Jaksa Urip (udah mantan sih), pejabat eselon 3 yang sekali transaksi menghasilkan 600 ribu dollar alias 6 M. Ini sebenarnya prestasi KPK yang dipimpin mantan jaksa yang tentunya sangat tahu modus operandi jaksa. Ini sebenarnya fenomena puncak gunung es, karena sudah menyeret 2 jaksa agung muda (Kemas Yahya, Untung Udji Santoso). Wah kalau sudah sampai eselon 1, gawat juga sebenarnya kejaksaan ini. Sayangnya si Jaksa Agung, Hendarman Supanji, nggak berbuat lebih untuk hal ini. Padahal, kasus ini bisa menjadi tionggak buat kejaksaan agar jauh lebih baik. Bukan lebih rapi menutupinya... Iya nggak?
2. Burhanudin Abdullah and his (BI) gank. Gw agak terenyuh ketika semua petinggi yang harusnya menjadi penjaga gawang kebijakan moneter semuanya terkena penyakit korupsi. Aulia Pohan, Bunbunan Hutapea, Aslim Tadjudin, dan beberapa yg lain kok bisa melakukan jual beli legislasi dengan pihak DPR. Seandainya Anwar Nasution tidak membukanya, wah tentunya kasus itu masih rapi terjaga. Miranda Gultom juga begitu, mau jadi deputi senior kok ya pake bagi2 duit. Untung Agus Chondro ngaku, kalau nggak juga nggak ketahuan.
3. Kelompok Bandit di DPR: Ini para birokrat legislatif, ada Al Amin Nasution, Yusuf Emir Faishal, Anthony Z. Abidin, Sarjan Taher, Hamka Yandhu, Bulyan Royyan, dan beberapa yang lain. Ntar saya tambahin kalau inget. Apa emang di DPR itu banyak setannya, kok mainannya uang yang em-em-an.
4. Aburizal Bakrie: Menko Kesejahteraan Rakyat yang tidak berhasil memperjuangkan hak2 rakyat karena lumpur Lapindo. Dia sukses menjadi orang terkaya di Indonesia setelah 2 tahun jadi menteri, tapi berhasil menjadikan 12 ribu orang menjadi gelandangan karena salah satu anak perusahaannya memuntahkan lumpur. Masih ada kesempatan untuk memperbaikinya, bayar ganti rugi warga Lumpur Lapindo secepatnya.
Teman2 ada yang mau menambah nominasi?
Lalu kira2 siapa ya yang paling ngetop?
Dari segi positif:
1. Siti Fadilah Supari: menurut saya menteri ini cukup sukses baik secara performance maupun kehumasan. Semua prestasi dia menjadi diketahui orang. Saya bolak-balik muter ke daerah, yang dirasakan ada peningkatan karena adanya pemerintah pusat adalah di bidang kesehatan. Ada yang sedikit maupun banyak. Satu lagi yang saya anggap sebagai prestasi adalah masalah NAMRU, 2 jempol untuk beliau.
2. Agus Chondro: mantan birokrat legislatif yang tobat lalu membuka 'borok' selebar-lebarnya. Ini orang kalau tidak tobat wah nggak kebayang gimana tertutup rapatnya borok akibat kong-kalikong pejabat BI dan birokrat legislatif. Mungkin akan lama terbongkarnya.
3. Joko Widodo: Walikota Solo yang cukup berhasil dalam bidang pelayanan publik. Dia juga aktif menata kota tetapi sangat memanusiakan warganya. Tidak ada penggusuran dan pemaksaan. Salah satu prestasi yang cukup membanggakan adalah memindahkan pasar dengan damai dan sejahtera. Coba di tempat lain. Gusur!
4. Untung Wiyono: Bupati Sragen ini adalah contoh nyata dalam perbaikan pelayanan publik. Yang paling kelihatan adalah dalam pengurusan surat2 penting macam KTP, akta kelahiran, pertanahan, dan urusan2 yang langsung berhadapan dengan publik adalah prestasi hebat sang bupati ini. Coba kita ngurus KTP di Sragen, sepertinya ada di luar negeri. Serba komputer, dan jauh dari praktik2 korupsi.
5. I Gede Winasa: Bupati Jembrana ini juga punya prestasi dalam pelayanan publik, lebih spesifik lagi adalah pelayanan kebutuhan dasar (air minum) dan infrastruktur lainnya. Jembrana adalah daerah yang sebenarnya susah air, tapi di tangan bupati ini rakyat Jembrana mungkin sudah lupa gimana rasanya kekurangan air bersih.
Saya susah menambah list-nya. Karena terus terang, kalau untuk pejabat2 publik (baca: menteri) saat ini performance-nya jauh dari memuaskan. Bahkan saya berpikir, jangan2 mereka cuman menjalankan business as usual. Kalau mau berhasil, mustinya dapat menggerakkan birokrasi ke arah yang semakin bagus. Lha ini, yang terjadi malah sebaliknya. Akibatnya, APBN sebagai amunisi utama birokrasi untuk mendorong perbaikan di berbagai bidang jadinya tidak lebih sebagai pemborosan. Lihat saja 3 bulan terakhir ini, semua rapat pindah ke hotel. Susah nyari hotel kosong, semua dipake rapat oleh birokrasi. Tidak hanya di Jakarta, tapi hampir di seluruh ibukota provinsi terjadi hal seperti itu.
Kali ini yang negatif, sedikit aja deh list-nya.
1. Urip Tri Gunawan and his (Attorney General) gank. Jaksa Urip (udah mantan sih), pejabat eselon 3 yang sekali transaksi menghasilkan 600 ribu dollar alias 6 M. Ini sebenarnya prestasi KPK yang dipimpin mantan jaksa yang tentunya sangat tahu modus operandi jaksa. Ini sebenarnya fenomena puncak gunung es, karena sudah menyeret 2 jaksa agung muda (Kemas Yahya, Untung Udji Santoso). Wah kalau sudah sampai eselon 1, gawat juga sebenarnya kejaksaan ini. Sayangnya si Jaksa Agung, Hendarman Supanji, nggak berbuat lebih untuk hal ini. Padahal, kasus ini bisa menjadi tionggak buat kejaksaan agar jauh lebih baik. Bukan lebih rapi menutupinya... Iya nggak?
2. Burhanudin Abdullah and his (BI) gank. Gw agak terenyuh ketika semua petinggi yang harusnya menjadi penjaga gawang kebijakan moneter semuanya terkena penyakit korupsi. Aulia Pohan, Bunbunan Hutapea, Aslim Tadjudin, dan beberapa yg lain kok bisa melakukan jual beli legislasi dengan pihak DPR. Seandainya Anwar Nasution tidak membukanya, wah tentunya kasus itu masih rapi terjaga. Miranda Gultom juga begitu, mau jadi deputi senior kok ya pake bagi2 duit. Untung Agus Chondro ngaku, kalau nggak juga nggak ketahuan.
3. Kelompok Bandit di DPR: Ini para birokrat legislatif, ada Al Amin Nasution, Yusuf Emir Faishal, Anthony Z. Abidin, Sarjan Taher, Hamka Yandhu, Bulyan Royyan, dan beberapa yang lain. Ntar saya tambahin kalau inget. Apa emang di DPR itu banyak setannya, kok mainannya uang yang em-em-an.
4. Aburizal Bakrie: Menko Kesejahteraan Rakyat yang tidak berhasil memperjuangkan hak2 rakyat karena lumpur Lapindo. Dia sukses menjadi orang terkaya di Indonesia setelah 2 tahun jadi menteri, tapi berhasil menjadikan 12 ribu orang menjadi gelandangan karena salah satu anak perusahaannya memuntahkan lumpur. Masih ada kesempatan untuk memperbaikinya, bayar ganti rugi warga Lumpur Lapindo secepatnya.
Teman2 ada yang mau menambah nominasi?
Lalu kira2 siapa ya yang paling ngetop?
Selasa, Desember 16, 2008
Selamat Buat Mas Arief Rahman
Sudah lama saya ingin memberi ucapan selamat buat Mas Arief Rahman, seorang senior saya di Bappenas yang baru saja di angkat jadi direktur di Lembaga Kebijakan Barang dan Jasa Publik (LKPP). Eselon 2 nih ceritanya.
Mas Arief ini akrab sama saya gara2 kira2 5 tahun yang lalu memantau sebuah proyek pemberdayaan masyarakat di Jawa Timur. Karena kita plus Mas Arifin nginepnya sembarangan, di rumah penduduk, dan perjalanan kita yang membumi (pake ojek, angkot, delman, dll), membuat kita menjadi akrab. Sampai sekarang, kita masih suka jalan bareng. Dari sekedar jalan ke Stasiun Dukuh Atas dan saya di halte busway Latuharhari, bersenang2 sambil nyanyi di karaoke, sampai berdiskusi masalah2 serius.
Kini Mas Arief udah jadi pejabat eselon 2, ada fasilitas mobil dinas (Grand Vitara booo, lebih keren dari eselon 2 Bappenas yg cuman Innova dan Livina) dan seorang sopir bagi dia, jadi pasti kita jarang jalan kaki lagi ke stasiun atau halte. Mas Arief akan punya ruangan sendiri, lalu ada sekretaris atau staf di depan pintu. Saya bersama teman2 nggak akan mudah ketemu Mas Arief.
Suatu hari, saya, Indra, Arifin maen ke tempat Mas Arief. Teman2 yang lain berhalangan. Wijaya rapat, Taufik lagi membuka warung baru, Rahmat lagi ngitung OJ.
Kebiasaan lama, begitu nyampe ruangan Mas Arief, kita terkaget-kaget oleh penampilan 'wow' sekretaris di depan ruangan Mas Arief. Udah pasti ini sekretarisnya, dan benar. Saya langsung nyangkut, ngobrol godain sekretarisnya Mas Arief. Terus terang yang ini saya harus memuji selera Mas Arief. Sementara Arifin dan Indra langsung nyelonong ke ruangan Mas Arief. Saya dengar mereka langsung teriak2 dan ketawa keras2, sesuai kebiasaan lama. Ketika saya bergabung, makin meledaklah becanda kita.
"Yang pertama tuh pilih sekretaris yang enak dipandang, biar kita bisa konsen bekerja dan tidak lekas jemu...." begitu kata Mas Arief ketika cerita tentang sekretarisnya. Wah benar2 cita2 lama yang kesampaian....
Selesai kita ngobrol ngalor-ngidul, kita pamit ke Mas Arief. Tidak lupa berpamitan dengan sekretarisnya yang manis.
Begitu sampai bawah, Indra ngerasa ada yang lupa. Dia belum dapat nomor hp sekretaris Mas Arief, segera dia naik lagi. Sampai di atas, Indra ngedapetin Mas Arief lagi ngasih briefing sekretarisnya...
"Lain kali kalau ada tamu dijadwalin dulu, emangnya saya ini siapa? Jangan ada yang nyelonong2 kayak Si Udin, Arifin, Indra, langsung masuk ke ruangan saya!"
Ha ha ha. Saya yakin Mas Arief tidak akan berkelakuan seperti itu. Mas Arief akan menjadi pejabat yang baik dan membawa kebaikan. Sukses Mas Arief.
Mas Arief ini akrab sama saya gara2 kira2 5 tahun yang lalu memantau sebuah proyek pemberdayaan masyarakat di Jawa Timur. Karena kita plus Mas Arifin nginepnya sembarangan, di rumah penduduk, dan perjalanan kita yang membumi (pake ojek, angkot, delman, dll), membuat kita menjadi akrab. Sampai sekarang, kita masih suka jalan bareng. Dari sekedar jalan ke Stasiun Dukuh Atas dan saya di halte busway Latuharhari, bersenang2 sambil nyanyi di karaoke, sampai berdiskusi masalah2 serius.
Kini Mas Arief udah jadi pejabat eselon 2, ada fasilitas mobil dinas (Grand Vitara booo, lebih keren dari eselon 2 Bappenas yg cuman Innova dan Livina) dan seorang sopir bagi dia, jadi pasti kita jarang jalan kaki lagi ke stasiun atau halte. Mas Arief akan punya ruangan sendiri, lalu ada sekretaris atau staf di depan pintu. Saya bersama teman2 nggak akan mudah ketemu Mas Arief.
* * *
Suatu hari, saya, Indra, Arifin maen ke tempat Mas Arief. Teman2 yang lain berhalangan. Wijaya rapat, Taufik lagi membuka warung baru, Rahmat lagi ngitung OJ.
Kebiasaan lama, begitu nyampe ruangan Mas Arief, kita terkaget-kaget oleh penampilan 'wow' sekretaris di depan ruangan Mas Arief. Udah pasti ini sekretarisnya, dan benar. Saya langsung nyangkut, ngobrol godain sekretarisnya Mas Arief. Terus terang yang ini saya harus memuji selera Mas Arief. Sementara Arifin dan Indra langsung nyelonong ke ruangan Mas Arief. Saya dengar mereka langsung teriak2 dan ketawa keras2, sesuai kebiasaan lama. Ketika saya bergabung, makin meledaklah becanda kita.
"Yang pertama tuh pilih sekretaris yang enak dipandang, biar kita bisa konsen bekerja dan tidak lekas jemu...." begitu kata Mas Arief ketika cerita tentang sekretarisnya. Wah benar2 cita2 lama yang kesampaian....
Selesai kita ngobrol ngalor-ngidul, kita pamit ke Mas Arief. Tidak lupa berpamitan dengan sekretarisnya yang manis.
Begitu sampai bawah, Indra ngerasa ada yang lupa. Dia belum dapat nomor hp sekretaris Mas Arief, segera dia naik lagi. Sampai di atas, Indra ngedapetin Mas Arief lagi ngasih briefing sekretarisnya...
"Lain kali kalau ada tamu dijadwalin dulu, emangnya saya ini siapa? Jangan ada yang nyelonong2 kayak Si Udin, Arifin, Indra, langsung masuk ke ruangan saya!"
* * *
Ha ha ha. Saya yakin Mas Arief tidak akan berkelakuan seperti itu. Mas Arief akan menjadi pejabat yang baik dan membawa kebaikan. Sukses Mas Arief.
Langgan:
Entri (Atom)